Pages

Subscribe:
Powered By Blogger

Wednesday, 11 November 2015

SEJARAH PH DI INDONESIA


Setiap makhluk hidup menjadi penyusun dan pelaku terbentuknnya suatu komunitas yang mempu mengatur dirinya sendiri secara alami sehingga terjadi keseimbangan numberik antara semua unsur penyusun komonitas. meningkatnya kesadaran manusia terhadap kelestarian lingkungan hidup,semakin banyak pula aspek lingkungan yang ia pertimbangkan sebelum melakukan berbagai pengambilan keputusan,termasuk sebelum melakukan tindakan pengendalian hama dalam taninya. Berbagai cara pengendalian hama tanaman telah dikenalkan manusia,namun tidak semua cara tersebut ramah terhadap lingkungan.Salah satu cara pengendalian hama yang dianggap ramah terhadap lingkungan adalah pengendalian hayati.Yang menarik adalah bahwa pengendalian hayati sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun yang lalu dan sudah diimplementasikan dalam perlindungan tanaman sejak abad ke 17.Namun,di sekitar pertengahan abad ke 20 popularitas pengendalian hayati seakan memudar karena gencarannya promosi pengendalian secara kimiawi yang ternyata menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan hidup.Baru pada akhir abad ke 20,pada saat manusia semakin sadar lingkungan,muncul kebutuhan untuk kembali kepada penngendalian hayati.
Pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alami seperti predator parasitoid dan patogen. pengendalian hayati merupakan salah satu metode pengendalian hama yang semakin diminati akhir-akhir ini karena memiliki keunggulan,dia antaranya adalah sifatnya yang’ramah’lingkungan.Dalam konteks ini musuh alami adalah agens pengendalian (control agents)yang dapat berkecukupan diri (self-sustenance) sehingga hemat karena mereka dapat bberkembang biakdi alam.Selain itu,populasi musuh alamidiharapkandapat bereaksi secara terpaut kepadatan(desity dependence) dengan populasi hama,artinya daya kendali oleh musuh alami itu semakin tinggi pada populasi hama yang semakin padat.Dengan demikian pengendalian hayati di harapkan dapat mencegah peledakan populasi hama.sifat-sifat baik pengendalian hayati itu sering di tandingkan dengan sifat buruk yang dimiliki oleh metode pengendalian kimiawi(meracuni lingkungan,boros,menimbulkan resistensi dan resurjensi hama,dan sebagainya)

Tujuan
1)      Untuk mengetahui sejarah pengendalian hayati di indonesia.
2)      Untuk mengetahui perkembangan pengendalian hayati di indonesia.
3)      Untuk mengetahui konsep dari pengedalian hayati di indonesia.



Istilah pengendalian hayati mencakup 3 pengertian,yaitu (1) sebagai disiplin ilmu, (2) sebagai metode pengendalian hama, (3) sebagai fenomena alami Menurut van den bosch et al (1982).Sebagai bidang ilmu,pengendalian hayati dapat dipandang sebagai bentuk terapan dari ilmu biologi,khususnya entomologi.Ilmu penendalian hayati menitikberatkan kajian terhadap interaksi antara organisme dan musuh alaminya.Organisme target itu dapat kedudukan sebagai mangsa(prey) atau inang(host),sedangkan musuh alaminya berfungsi sebagai predator atau parasit.Parasit yang tergolong kedalam kelas hexapoda(serangga) dikenal sebagai parasitoid,sedangkan yang tergolong kedalam mikroorganisme disebut patogen.Dalam tradisi pembelajarannya,ilmu pengendalian hayati lebih banyak membahas interaksi mangsa-predator dan inang-parasitoid, sedangkan interaksi antara patogen dan inang terutama serangga inang secara khusus dibahas dalam Patologi serangga.
Sebagai metode,pengendalian hayati merupakan salah satu metode pengendalian hama yang semakin diminati akhir-akhir ini karena memiliki keunggulan,dia antaranya adalah sifatnya yang’ramah’lingkungan.Dalam konteks ini musuh alami adalah agens pengendalian (control agents)yang dapat berkecukupan diri (self-sustenance) sehingga hemat karena mereka dapat berkembang biak di alam.Selain itu, populasi musuh alami diharap kan dapat bereaksi secara terpaut kepadatan dengan populasi hama,artinya daya kendali oleh musuh alami itu semakin tinggi pada populasi hama yang semakin padat.Dengan demikian pengendalian hayati di harapkan dapat mencegah peledakan populasi hama.sifat-sifat baik pengendalian hayati itu sering di tandingkan dengan sifat buruk yang dimiliki oleh metode pengendalian kimiawi(meracuni lingkungan,boros,menimbulkan resistensi dan resurjensi hama,dan sebagainya).
Pengendalian hayati dianggap berhasil apabila upaya itu mampu menurunkan posisi keseimbangan populasi hama. Bila penurunan keseimbangan terjadi sedemikian rupa sampai pada arah yang tidak merugikan secara ekonomi maka hal itu merupakan yang sempurna. Sebelum dilakukan pengendalian hayati.posisi keseimbangan populasi hama berada di atas tingkat kerusakan ekonomi. Setelah dilakukan pengendalian hayati.populasi hama tersebut turun dan tertekan sehingga mencapai keseimbangan baru pada posisi di bawah tingkat kerusakan ekonomi.Dalam perjalanan sejarahnya,upaya pengendalian hayati ada yang berhasil,ada yang berhasil semupurna,namun ada pula yang gagal.Pengendalian hayati dapat pula dipandang sebagai bagian dari fenomena alami yang disebut pengendalian alami.

PEMBAHASAN
Dalam perjalanan sejarahnya, upaya pengendalian hayati di indonesia dapat dikelompokkan ke dalam dua era yaitu era prakemerdekaan dan era kemerdekaan (Sosromarsono, 2005). Berikut ini didepkrisikan beberapa sistem pengendalian hayati pada masing-masing era dan diantara kedua era tersebut menurut Sosromarsono (2005) dan Kalshoven (1981).
1.      pada tahun 1910 kasus pertama pengendalian hayati terhadap ulat tembakau Helicoverpa (Heliothis) assulta dan Spodoptera spp. (Lepidoptera: Noctuidae) di kawasan Deli, sumatra utara. Ulat- ulat tembakau ini adalah hama asli Deli. Agens hayati yang digunakan adalah sejenis tabuhan (wasps) parasitoid telur, Trichogramma minutum (Hymenoptera: Trichogrammatidae), yang diintroduksi dari amerika serikat. Di tempat asalnya Trichogramma ini memarasit ulat tongkol jagung, helicoverpa zea (Lepidoptera: Noctuidae), yang masih sekerabat dengan ulat tembakau (satu famili). Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scolytidae)
2.      Pada tahun 1915 berbagi jenis musuh alami, termasuk kumbang kubah predator Chilocorus pollitus (Coleoptera: Coccinellidae), parasitoid Aphytis up. Dan Comperiella unifasciata (Hymenoptera: Encytirdae) didatangkan dari jawa dan Bali untuk mengendalikan kutuperisai Aspidiotus destructor (Homoptera: Diaspididae) pada perkebunan warga pada sulawesi utara. Tidak ada informasi yang jelas mengenai sukses tidaknya upaya pengendalian hayati ini.
3.      Pada tahun 1918 dilakukan pula pengendalian hayati terhadap kutu dompolan bergaris lamtoro, Ferrisia virgata (Homoptera: Pseudococcidae) menggunakan kumbang kubah predator, Cryptolaemus montrouzieri (Coleoptera: Coccinellidae) yang didatangkan. Lamtoro merupakan tumbuhan peneduh (pelindung) untuk tanaman kopi dan kakao. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1918, tetapi tempat asal predator dan lokasi pengendalian tidak jelas. Predator itu tidak mampu bertahan lama, faktor penyebabnya tidak jelas.
4.      Pada tahun 1923 dua jenis parasitoid, prorops nasuta (Hymenoptera: Bethylidae), dan heterospilus coffeicola (Hymenoptera: Braconidae), didatangkan dari uganda ke jawa.untuk pengendalian penggerakan buah kopi. Walaupun pelepasan parasitoid ini telah dilakukan berkali-kali namun parasitoid tetap tidak mampu bertahan di lapangan.
5.      Pada tahun 1934 dan 1936 parasitoid larva, Scolia oryctophaga (Hymenoptera: Scollidae) didatangkan dari mauritius untuk mengendalikan kumbang nyiur Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scolytidae) yang asli indonesia.
6.      Pada thun 1920-an perkebunan kelapa di sulawesi selatan dan pulau-pulau di sebelah utara dan timur jawa rusak berat oleh kumbang brontispa (Brontispa longissima,Coleoptera:Hispidae) sehingga produksi kelapa berkurang dan aktivitas ekspor terkendala. Sementara di pulau jawa populasi kumbang tersebut rendah karena terkendali secara alami oleh beberapa jenis parasitoid, yaitu parasitoid telur Ooencyrtus podontiae(hymenoptera:Encyrtidae), dan  parasitoid larvapupa Tetrastichus brontispae(hymenoptrea:Eulophidae) parasitoid telur haeckeliana brontispae (Hymenoptera:Trichogrammatidae).Di antara parasitoid-parasitoid itu yang paling efektif adalah Tetrastichus, sehingga para entologimiwan Belanda dan indonesi mendirikan fasilitas pembiakan masal Tetrastichus di bogor.
7.      Pada bulan Mei – Agustus tahun 1932 sebanyak 2.500 ekor pupa brontispa terparasit yang dihasilkan dari fasilitas itu dikirimkan  ke daerah-daerah serangan hama di sulawesi .Tabung-tabung bambu berlubang (untuk pintu keluar parasitoid) berisi pupa terparasit itu digantungkan pada pohon-pohon kelapa terserang.Pada bulan maret tahun 1933 pada berbagai tempat Tetratchus sudah mampu memarasit50% pupa lokal terapi belum tersebar secara meluas.Oleh karena itu pada tahun itu dilaukan introduksi parasitoid tahap kedua dengan mendatangkan 3000 ekor pupa terparasit. Upaya pengendalian ini cukup berhasil.Pada akhir tahun 1934 seorang teknisi yang sudah dilatih di bogor dalam sigi (survey)dan pembiakan masal Tetrastichus di tempatkan di sulawesi selatan,ia membiak masalkan parasitoid itu di suatu laboratorium lapangan dan “obat kelapa” yang dihasilkan disebarkan ke kebun-kebun kelapa yang terinfestasi berat.Pada tahun  1935  di sulawesi selatan sudah ada lima laboratorium  lapangan seperti itu,yaitu di kawasan makassar, jeneponto, sinjai, selayar, Dan Muna(kawasan ini sekarang termasuk provinsi Sulawesi Tenggara), yang mampu menyediakan “obat kelapa” yang cukup sehingga tidak perlu lagi mendatangkan dari jawa.Pada tahun 1936 setiap laboratorium lapangan tersebut mampu memberi tambahan dan menyebarkan 30.000 ekor pupa terparasit pada lokasi masing-masing.Hasilnya,parasitasi mancapai 60-90%, parasitoid berhasil dan produksi kelapa di pusat-pusat serangan hama di sulawesi selatan dapat diselamatkan. Aktifitas ekspor kopra di sulawesi selatan dapat dilanjut kembali.
8.      Pada tahun 1911 Progam yang juga berhasil adalah pengendalian hayati terhadap hama artona di jawa tengah. Musuh alami  dari hama artona ini antara lain parasitoid apanteles artonae (hymenoptera:braconiadae), euplectomorpha viridisceps (hyeulophidae), bessa(=ptychomyia) remota (diptera:tachinidae), argyrophylax fumipennis (=cadurcia leefmansi) pengendalian hama artona ini dikenalkan luas pada akhir tahun 1950-an.
9.      Pada awal 1970-an Eceng gondok tumbuh dan menutupi permukaan air dengan sangat cepat. Gulma ini menginvasi rawa-rawa, danau, sungai, dan terusan di berbagai kawasan tropis lainnya dan dapat dianggap sebagai gulam air terpenting di dunia. Kumbang moncong eksotik, Neochetina spp. (Coleoptera: Curculionidae) telah dimanfaatkan untuk mengendalikan eceng gondok (Eichhornia crassipes (Magnoliophyta: Pontederiaceae)) di indonesia. Pada akhir 1970-an, N.eichhorniae yang di datangkan dari amerika selatan dilepaskan di rawa pening, jawa tengah. Kumbang moncong ini memakan jaringan eceng gondok dan mematikannya sehingga luas tutupan permukaan air oleh gulma ini menjadi berkurang.
10.  Pada tahun 1970-an Dua hama penggerek buah menjadi kendala utama produksi kapas tersebut, yaitu Helicoverpo armigera (Lepidoptera: Noctuidae) dan Pectinophora gossypeilla (Lepidoptera: Gelechiidae). Pada akhir tahun 1980-an dari pertanaman kapas dan jagung di jawa timur dan nusa tenggara barat nurindah dan bindara ( cit. Sosromarsono, 2005) menemukan tiga jenis parasitoid telur, yaitu Trichogrammatidea armigera (Hymenoptera: Trichogrammatidae) dari telur Helicoverpa yang diletakan pada tanaman kapas.Pada akhir tahun 2001, dari eksplorsi yang dilkukan dikawasan asembagus dan lamongan (jawa timur), brebes (jawa tengah), dan bone (sulawesi selatan), nurindah et al. (2004) menemukan dua kelompok parasitoid Pectinophora, yaitu parasitoid telur (Trichogrammatidea spp.) dan parasitoid larva. Kedua golongan parasitoid ini berpotensi digunakan sebagai agens hayati terhadap ulat penggerek kapas tersebut; dengan  parasitasi telur mencapai 90% sedangkan parasitasi larva mencapai 24%.
11.  Pada tahun 1990-an terdapat penggerek buah kopi, Hypothenemus hampei (Coleoptera: Scolytidae) di lampung dan hama ini meraja real di lampung dan hama ini dikendalikan dengan penggunaan Cepahalonomia stephanoderis (Hymenoptera: Bethylidae) yang didatangkan dari afrika barat. Pada tahun 1992 pihak Laboratorium utama pengendalian hayati, dinas perkebunan provinsi lampung, telah melakukan enam kali pelepasan parasitoid (50 – 100 ekor pupa atau imago  parasitoid atau 525 pupa dan 475 ekor imago parasitoid) di pertanaman kopi di sumberjaya (lampung barat) dan pagelaran (tanggamus) (kustaryo, 1993). Kemudian pemantauan yang dilkukan oleh sujiati (1993) pada bulan april – juni 1993 menunjukkan bahwa parasitoid tersebut berhasil mapan di kedua kawasan tersebut dengan tingkat parasitasi rata-rata 17,6% (di pagelaran) – 27,2% (di sumberjaya) dan mampu memberikan dampak penekanan terhadap populasi pengerek buah kopi sebesar rata-rata  27%.
12.  Pada awal abad 21 indonesia kedatangan dua jenis hama baru yaitu pengorok daun Liriomyza spp. (Diptera: Agromyzidae) pada berbagai jenis tanaman sayuran dan tungau merah jeruk Panonychus citri (Acari: Tetranychidae). Program pengendalian hayati untuk hama-hama tersebut belum dicanangkan, tetapi keanegaraman musuh alami lokal yang berpotensi sebagai agens hayati sudah mulai diinventarisasi. Susilowati (cit. Sosromarsono, 2005) menemukan belasan spesies parasitoid dari famili eulophidae, eucoliidae, braconidae, atau pteromalidae (Hymenoptera) yang bersosiasi dengan lalat Liriomyza. Sementara itu puspitorni (cit. Sosromarsono, 2005) melaporkan bahwa tunggu merah jeruk berasosiasi dengan tungau predator Amblyseius longispinus (Acari:Phytoseiidae), tungau predator dari famili stigmaeidae, tirip predator scolothirips sp. (Thysanoptera: Thiripidae), dan jamur entomopatogen hirsutella sp. (Deuteromycetes: Moniliales). Yang paling berpotensi sebagai agens hayati adalah amblyseius.




PENUTUP
 Kesimpulan
Semakin banyaknya lingkungan yang tercermar akibat bahan kimia sehingga pertimbangkan sebelum melakukan berbagai pengambilan keputusan,termasuk sebelum melakukan tindakan pengendalian hama dalam taninya.Berbagai cara pengendalian hama tanaman telah dikenalkan manusia,namun tidak semua cara tersebut ramah terhadap lingkungan.Salah satu cara pengendalian hama yang dianggap ramah terhadap lingkungan adalah pengendalian hayati. Pengendalian hayati sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun yang lalu dan sudah diimplementasikan dalam perlindungan tanaman sejak abad ke 17. Pertengahan abad ke 20 popularitas pengendalian hayati seakan memudar karena gencarannya promosi pengendalian secara kimiawi yang ternyata menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan hidup.Baru pada akhir abad ke 20,pada saat manusia semakin sadar lingkungan,muncul kebutuhan untuk kembali kepada penngendalian hayati.

Saran
Yang dapat disarankan yaitu betapa pentingnnya menjaga lingkungan untuk menjaga kelangsungan hidup agen-agen hayati di lingkungan agar agen hayati sendiri dapat mengendalikan hama yang ganas menyerang hama-hama petani.


DAFTARA PUSTAKA
Purnomo.H.2011.pengendalian hayati.http//books/pengendalianhayati.html.diakses 28oktober 2015
Marwoto.O.2010. penendalian hayati dan agents. http//agrikecancanaperkasa .com /pengendalianhayatidanagents.html diakses 28 oktober 2015
Kalshoven, L.G.E 1981.pests of crops in indonesia (rev dan transi P.A. van der laan) P.T ichtiar baru van hoeve jakarta
Sherpard,B,M ,bariaon A,T dan litsinger J.a 1995 mitra petani srangga laba-laba dan patogen yang membantu(untung K. Dan wirjosuharji s.terj) IRRI-Program nasional pengendalian hama terpadu jakarta.
Noname.2010.juniera31.http//journal.uneir,ac,id/pdfjuniera31.htmldiakses 20oktober2015

KOMPONEN UTAMA PENGENDALI KEPADATAN POPULASI HAMA DI ALAM



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  latar belakang
Dalam meningkatkan produksi pertanian banyak kendala yang kita hadapi diantaranya adalah gangguan organisme pengganggu Tanaman (OPT). Serangan OPT mengakibatkan kerusakan tanaman dan penurunan hasil mulai dipertanaman hingga kepenyimpanan. Akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh OPT tersebut akan mengakibatkan penurunan hasil baik secara kwantitas atau kwalitas. Hama terjadi karena adanya ketidakseimbangnya ekologi yang disebabkan oleh kontrol manusia terhadap penggunaan bahan kimia-kimia secara berlebihan, tidak terukur dan berkelanjutan Berbagai jenis hama mempunyai peran penting terhadap penurunan produksi pertanian. Pada tanaman padi saja tercatat 100 jenis hama dan 40 jenis penyakit. Pada kedelai tercatat 50 jenis hama dan 30 jenis penyakit (Soejitno,1988, Tjoa,1953). Masih banyak lagi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan lainnya. Pada awalnya dan sampai saat ini petani masih menggunakan pestisida untuk mengendalikan gangguan organisme pengganggu tanaman. Namun para pakar telah menyadari sejak lama adanya pengaruh buruk terhadap penggunaan pestisida yang tidak terkendali. Masalah-masalah yang timbul antara lain tertinggalnya residu pada tanaman, tanah, air dan makanan. Timbulnya kasus resistensi hama dan resurgensi pada hama dan banyak kasus-kasus keracunan lain yang tidak langsung dapat dibuktikan.
Ketergantungan petani terhadap insektisida umumnya karena dibayangi oleh risiko kegagalan panen. Untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap insektisida, teknologi pengelolaan ekosistem yang telah tersedia perlu diinformasikan ke petani. Petani harus diberi penyuluhan tentang manfaat musuh alami sebagai komponen pengendali hama. Apabila ekosistem dapat terkelola dengan baik,Maka musuh alami diharapkan mampu mengendalikan dan mengatur populasi hama pada tingkat yang tidak merugikan secara ekonomis. Parrella et al. (1992) mengemukakan bahwa pemanfaatan musuh alami dengan manipulasi lingkungan mencakup berbagai teknik, antara lain: menambahkan sejumlah individu hama sebagai inang alternatif, menggunakan senyawa penarik (attractant) atau pakan tambahan, dan memodifikasi teknik budi daya yang menguntungkan musuh alami.

1.2  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi perkembangan populasi hama.
2.      Untuk mengetahui komponen pengendali kepadatan populasi hama di alam.
3.      Untuk mengetahui dinamika kepadatan populasi hama di alam.
4.      Untuk mengetahui laju kepadatan populasi hama di alam.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Populasi
     Populasi adalah sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Misalnya semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga dengan pohon-pohon cemara. Ahli ekologi memastikan dan menganalisa jumlah dan pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara masing-masing spesies dan kondisi-kondisi lingkungan.
2.2 Karakteristik Populasi
Populasi memiliki sifat-sifat (karakteristik) yang dapat diukur secara statistik dan bukan sifat daripada individu-individu penyusunnya, di antara sifat-sifat tersebut adalah kepadatan, laju perkembangan populasi, natalitas dan mortalitas, distribusi umur, potensi biotik, penyebaran dan bentuk pertumbuhan.
2.3 Dinamika Populasi
Dinamika populasi  (dp) adalah naik turunnya jumlah serangga dalam suatu populasi. Penyebab naik turunnya jumlah populasi serangga dipengaruhi oleh natalitas (kelahiran), mortalitas (kematian), dan imigrasi (perpindahan).


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Faktor  Dalam Yang Mempengaruhi Populasi
Faktor dalam yang mempengaruhi perkembangan hama tanaman antara lain
A.    Kemampuan berkembang biak 
Tinggi rendahnya kemampuan berkembang biak dipengaruhi oleh kecepatan berkembang biak dan perbandingan kelamin. Semakin tinggi kemampuan berkembang biaknya maka hama tersebut semakin cepat berkembang biak. Kecepatan berkembang biak dipengaruhi oleh keperidian dan jangka waktu perkembangan. Keperidian adalah besarnya kemampuan jenis hama untuk melahirkan keturunan baru. Sedangkan jangka waktu perkembangan adalah waktu yang dibutuhkan untuk berkembang sejak telur dikeluarkan sampai masak kelamin. Perbandingan kelamin yang dimiliki hama umumnya 1:1 namun pada keadaan tertentu perbandingan tersebut dapat berubah. Misalnya pada keadaan jumlah makanan banyak tersedia perbandingan antara jantan dan betina menjadi 1:3 sedangkan pada keadaan jumlah makanan sedikit jumlah jantan dapat mencapai 90% sehingga populasi berikutnya menurun. 
B.     Sifat mempertahankan diri 
Hama tanaman mempunyai alat dan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap gangguan organisme lain di sekitarnya. Misalnya ulat kantong (Metisa plana Wlk.) membuat kantong sebagai tempat tinggal. Bila diganngu, ia akan segera menutup pintu kantong dan sembunyi di dalamnya. Walang sangit (Leptocorixa acuta Thumb.) mengeluarkan bau kurang sedap. Ulat api (darna trima Mr.,) memiliki bulu beracun sehingga bila terkena kulit akan terasa panas. Wereng hijau (Nephotettix spp.) berwarna hijau mirip daun padi. 
C.     Umur imago 
Umur imago mempengaruhi peningkatan populasi hama. Semakin lama umur betina, semakin banyak pula kesempatan untuk bertelur.

3.2 Faktor Luar Yang Mmpengaruhi Populasi
Faktor luar adalah keadaan lingkungan yang dapat mempengaruhi kahidupan hama tanaman. Populasi hama sifatnya dinamis. Jumlah tersebut bisa naik, bisa turun atau tetap seimbang tergantung keadaan lingkungan. Bila kondisi lingkungan cocok populasi hama berkembang pesat. 

A.    Iklim 

Unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan hama adalah : 

1)      Suhu 
Suhu lingkungan sangat mempengaruhi suhu tubuh serangga dimana setiap serangga memiliki kisaran suhu tertentu. Apabila serangga berada di luar suhu ideal serangga akan mati dan apabila mendekati titik maksimum atau minimum serangga tersebut akan tidur. Sedangkan apabila serangga berada pada suhu efektif maka serangga akan mampu beraktivitas secara maksimal. Umunya suhu optimal serangga adalah 26oC, suhu minimumnya adalah 15oC dan suhu maksimumnya antara 38oC-45oC. 
2)      Kelembaban 
Kelembaban akan mempengaruhi perkembangan biakan dan aktivitas hidupnya. Misalnya hama gudang baru bisa menyerang apabila kadar air beras atau jagung di atas 14%. 
3)      Curah hujan 
Curah hujan yang tinggi dapat rnempengaruhi perkembangan populasi serangga secara langsung yaitu dengan pengaruh fisiknya akibat turunnya hujan terutama untuk serangga-serangga berukuran kecil dan mempengaruhi secara tidak langsung yaitu dengan mernbuat kondisi yang baik bagi perkernbangan penyakit yang dapat menjadikan serangga sakit hingga mengalarni kernatian, 
4)      Cahaya 
Beberapa aktivitas serangga dipengaruhi oleh responnya terhadap cahaya, sehingga terdapat serangga yang aktif pagi, siang, sore atau malam hari. Cahaya matahari dapat mempengarui aktifitas dan penyebarannya. Habitat serangga dewasa (imago) dan serangga pradewasa (larva dan pupa) ada yang sama dan ada yang berbeda. Pada Ordo Lepidoptera, larva aktif makan dan biasanya menjadi hama, sedangkan serangga dewasanya hanya menghisap nektar atau madu bunga. Pada Ordo Coleoptera, umumnya larva dan imago aktif makan dengan habitat yang sama, sehingga keduanya menjadi hama (Jumar, 2000). Cahaya mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan, perkembangannya dan daya tahan kehidupan serangga baik secara langsung maupun tidak langsung. Cahaya mempengaruhi aktifitas serangga, cahaya membantu untuk mendapatkan makanan, tempat yang lebih sesuai. Setiap jenis serangga membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda untuk aktifitasnya. Berdasarkan pernyataan diatas serangga dapat digolongkan : 
1.      Serangga diurnal merupakan serangga yang membutuhkan intensitas cahaya tinggi, sehingga aktif pada siang hari, sementara dimalam hari tidur. 
2.      Serangga nokturnal merupakan kebalikan dari perilaku diurnal, yaitu serangga yang membutuhkan intensitas cahaya rendah, sehingga aktif pada malam hari, sementara disiang hari tidur. 
3.      Serangga krepskular adalah serangga yang membutuhkan intensitas cahaya sedang atau saat remang-remang selama peralihan hari yakni waktu senja dan fajar. Serangga ini juga aktif pada malam terang bulan 
5)      Angin 
Angin akan berpengaruh terhadap proses penyebaran hama. Pergerakan udara merupakan salah satu faktor yang penting dalam penyebaran serangga. Arah dari penyebaran serangga terkadang mengikuti arah angin. Angin berpengaruh terhadap perkembangan hama, terutama dalam proses penyebaran hama tanaman. Misalnya kutu daun dapat terbang terbawa angin sejauh 1.300 km, seperti penyebaran kutu loncat (Heteropsylla cubana). Seperti pada tahun 1986, kutu loncat lamtoro mengalami ledakan (Outbreak atau Explosive) pada daerah yang luas dalam waktu relatif singkat. Belalang kayu (Valanga nigricornis Zehntneri Krauss), bila terdapat angin dapat terbang sejauh 3-4 km. Selain mendukung penyebaran hama, angin kencang dapat menghambat kupu-kupu untuk bertelur, bahkan dapat mematikannya (Tarumingkeng, 1994). 

B.     Tanah 
Struktur dan kelembaban tanah berpengaruh besar terhadap kehidupan tanah. Tanah berstruktur gembur, dengan kandungan bahan organik tinggi, dan kelembaban yang cukup dapat mendukung perkembangan hama yang seluruh atau sebagian hidupnya di dalam tanah. Misalnya lalat buah untuk meletakkan kepompong, kumbang badak yang hidup di dalam tanah. 
C.     Tanaman inang 
Tanaman inang adalah tanaman yang menjadi makanan dan tempat tinggal organisme hama. Makanan merupakan faktor lainnya yang sangat menentukan perkembangan populasi serangga hama. Faktor kualitas dan kuantitas makanan akan memberikan pengaruh pada tinggi rendahnya perkernbangan populasi. Makanan merupakan sumber gizi yang dipergunakan oleh serangga untuk hidup dan berkembang biak. Jika makanan tersedia dengan kualitas yang sesuai, maka populasinya akan cepat meningkat. Sebaliknya, jika makan kurang, maka populasinya akan menurun. Pengaruh jenis makanan, kandungan air dalam makanan dan besarnya butiran material juga berpengaruh terhadap perkembangan suatu jenis serangga. Dalam hubungannya dengan makanan, masing-masing jenis serangga memiliki kisaran inang yang berbeda yaitu Monofag (hidup dan makan hanya pada satu atau beberapa spesies dalam satu famili tertentu), Polifag (hidup dan makan pada berbagai spesies pada berbagai famili), dan Oligofag (hidup dan makan pada berapa spesies dalam satu famili) (Jumar, 2000).


BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Tinggi rendahnya kemampuan berkembang biak dipengaruhi oleh kecepatan berkembang biak dan perbandingan kelamin. Semakin tinggi kemampuan berkembang biaknya maka hama tersebut semakin cepat berkembang biak. Kecepatan berkembang selain perkembang biakan yang menyebabkan pedatan populasi hama dialam ada juga beberapa faktor yang menyebabkan populasi hama dia lam pada seperti : imago yang cepat pertumbuhannya , makanan yang banyak tersedia , jumlah predator , parasitoid yang sedikit sehingga menyebabkan populasi hama dialam padat.
4.2  Saran
Saran yang dapat saya sampaikan dari paper yang saya buat hanyalah bagaimana cara kita menjaga lingkungan agar alam tetap seimbang dan lestari agar tidak terjadi ketidak sirnegian di alam.






DAFTAR PUSTAKA
1.      Alexandrkaka / populasi hama/ diakses 10 oktober 2015 (http://blogalexanderkakaspt.blogspot.co.id)
2.      Amarida/pengertian populasi komunitas ekosistem/diakses 11 oktober 2015(http://amrida-akkas.blogspot.co.id)
3.      The world agriculture/dinamika populasi/diakses 11 oktober 2015( http://theworldagriculture.blogspot.co.id)