Pages

Subscribe:

Wednesday, 11 November 2015

SEJARAH PH DI INDONESIA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Setiap makhluk hidup menjadi penyusun dan pelaku terbentuknnya suatu komunitas yang mempu mengatur dirinya sendiri secara alami sehingga terjadi keseimbangan numberik antara semua unsur penyusun komonitas. meningkatnya kesadaran manusia terhadap kelestarian lingkungan hidup,semakin banyak pula aspek lingkungan yang ia pertimbangkan sebelum melakukan berbagai pengambilan keputusan,termasuk sebelum melakukan tindakan pengendalian hama dalam taninya. Berbagai cara pengendalian hama tanaman telah dikenalkan manusia,namun tidak semua cara tersebut ramah terhadap lingkungan.Salah satu cara pengendalian hama yang dianggap ramah terhadap lingkungan adalah pengendalian hayati.Yang menarik adalah bahwa pengendalian hayati sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun yang lalu dan sudah diimplementasikan dalam perlindungan tanaman sejak abad ke 17.Namun,di sekitar pertengahan abad ke 20 popularitas pengendalian hayati seakan memudar karena gencarannya promosi pengendalian secara kimiawi yang ternyata menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan hidup.Baru pada akhir abad ke 20,pada saat manusia semakin sadar lingkungan,muncul kebutuhan untuk kembali kepada penngendalian hayati.
Pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alami seperti predator parasitoid dan patogen. pengendalian hayati merupakan salah satu metode pengendalian hama yang semakin diminati akhir-akhir ini karena memiliki keunggulan,dia antaranya adalah sifatnya yang’ramah’lingkungan.Dalam konteks ini musuh alami adalah agens pengendalian (control agents)yang dapat berkecukupan diri (self-sustenance) sehingga hemat karena mereka dapat bberkembang biakdi alam.Selain itu,populasi musuh alamidiharapkandapat bereaksi secara terpaut kepadatan(desity dependence) dengan populasi hama,artinya daya kendali oleh musuh alami itu semakin tinggi pada populasi hama yang semakin padat.Dengan demikian pengendalian hayati di harapkan dapat mencegah peledakan populasi hama.sifat-sifat baik pengendalian hayati itu sering di tandingkan dengan sifat buruk yang dimiliki oleh metode pengendalian kimiawi(meracuni lingkungan,boros,menimbulkan resistensi dan resurjensi hama,dan sebagainya)

1.2     Tujuan
1)      Untuk mengetahui sejarah pengendalian hayati di indonesia.
2)      Untuk mengetahui perkembangan pengendalian hayati di indonesia.
3)      Untuk mengetahui konsep dari pengedalian hayati di indonesia.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Istilah pengendalian hayati mencakup 3 pengertian,yaitu (1) sebagai disiplin ilmu, (2) sebagai metode pengendalian hama, (3) sebagai fenomena alami Menurut van den bosch et al (1982).Sebagai bidang ilmu,pengendalian hayati dapat dipandang sebagai bentuk terapan dari ilmu biologi,khususnya entomologi.Ilmu penendalian hayati menitikberatkan kajian terhadap interaksi antara organisme dan musuh alaminya.Organisme target itu dapat kedudukan sebagai mangsa(prey) atau inang(host),sedangkan musuh alaminya berfungsi sebagai predator atau parasit.Parasit yang tergolong kedalam kelas hexapoda(serangga) dikenal sebagai parasitoid,sedangkan yang tergolong kedalam mikroorganisme disebut patogen.Dalam tradisi pembelajarannya,ilmu pengendalian hayati lebih banyak membahas interaksi mangsa-predator dan inang-parasitoid, sedangkan interaksi antara patogen dan inang terutama serangga inang secara khusus dibahas dalam Patologi serangga.
Sebagai metode,pengendalian hayati merupakan salah satu metode pengendalian hama yang semakin diminati akhir-akhir ini karena memiliki keunggulan,dia antaranya adalah sifatnya yang’ramah’lingkungan.Dalam konteks ini musuh alami adalah agens pengendalian (control agents)yang dapat berkecukupan diri (self-sustenance) sehingga hemat karena mereka dapat berkembang biak di alam.Selain itu, populasi musuh alami diharap kan dapat bereaksi secara terpaut kepadatan dengan populasi hama,artinya daya kendali oleh musuh alami itu semakin tinggi pada populasi hama yang semakin padat.Dengan demikian pengendalian hayati di harapkan dapat mencegah peledakan populasi hama.sifat-sifat baik pengendalian hayati itu sering di tandingkan dengan sifat buruk yang dimiliki oleh metode pengendalian kimiawi(meracuni lingkungan,boros,menimbulkan resistensi dan resurjensi hama,dan sebagainya).
Pengendalian hayati dianggap berhasil apabila upaya itu mampu menurunkan posisi keseimbangan populasi hama. Bila penurunan keseimbangan terjadi sedemikian rupa sampai pada arah yang tidak merugikan secara ekonomi maka hal itu merupakan yang sempurna. Sebelum dilakukan pengendalian hayati.posisi keseimbangan populasi hama berada di atas tingkat kerusakan ekonomi. Setelah dilakukan pengendalian hayati.populasi hama tersebut turun dan tertekan sehingga mencapai keseimbangan baru pada posisi di bawah tingkat kerusakan ekonomi.Dalam perjalanan sejarahnya,upaya pengendalian hayati ada yang berhasil,ada yang berhasil semupurna,namun ada pula yang gagal.Pengendalian hayati dapat pula dipandang sebagai bagian dari fenomena alami yang disebut pengendalian alami.





BAB III
PEMBAHASAN
Dalam perjalanan sejarahnya, upaya pengendalian hayati di indonesia dapat dikelompokkan ke dalam dua era yaitu era prakemerdekaan dan era kemerdekaan (Sosromarsono, 2005). Berikut ini didepkrisikan beberapa sistem pengendalian hayati pada masing-masing era dan diantara kedua era tersebut menurut Sosromarsono (2005) dan Kalshoven (1981).
1.      pada tahun 1910 kasus pertama pengendalian hayati terhadap ulat tembakau Helicoverpa (Heliothis) assulta dan Spodoptera spp. (Lepidoptera: Noctuidae) di kawasan Deli, sumatra utara. Ulat- ulat tembakau ini adalah hama asli Deli. Agens hayati yang digunakan adalah sejenis tabuhan (wasps) parasitoid telur, Trichogramma minutum (Hymenoptera: Trichogrammatidae), yang diintroduksi dari amerika serikat. Di tempat asalnya Trichogramma ini memarasit ulat tongkol jagung, helicoverpa zea (Lepidoptera: Noctuidae), yang masih sekerabat dengan ulat tembakau (satu famili). Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scolytidae)
2.      Pada tahun 1915 berbagi jenis musuh alami, termasuk kumbang kubah predator Chilocorus pollitus (Coleoptera: Coccinellidae), parasitoid Aphytis up. Dan Comperiella unifasciata (Hymenoptera: Encytirdae) didatangkan dari jawa dan Bali untuk mengendalikan kutuperisai Aspidiotus destructor (Homoptera: Diaspididae) pada perkebunan warga pada sulawesi utara. Tidak ada informasi yang jelas mengenai sukses tidaknya upaya pengendalian hayati ini.
3.      Pada tahun 1918 dilakukan pula pengendalian hayati terhadap kutu dompolan bergaris lamtoro, Ferrisia virgata (Homoptera: Pseudococcidae) menggunakan kumbang kubah predator, Cryptolaemus montrouzieri (Coleoptera: Coccinellidae) yang didatangkan. Lamtoro merupakan tumbuhan peneduh (pelindung) untuk tanaman kopi dan kakao. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1918, tetapi tempat asal predator dan lokasi pengendalian tidak jelas. Predator itu tidak mampu bertahan lama, faktor penyebabnya tidak jelas.
4.      Pada tahun 1923 dua jenis parasitoid, prorops nasuta (Hymenoptera: Bethylidae), dan heterospilus coffeicola (Hymenoptera: Braconidae), didatangkan dari uganda ke jawa.untuk pengendalian penggerakan buah kopi. Walaupun pelepasan parasitoid ini telah dilakukan berkali-kali namun parasitoid tetap tidak mampu bertahan di lapangan.
5.      Pada tahun 1934 dan 1936 parasitoid larva, Scolia oryctophaga (Hymenoptera: Scollidae) didatangkan dari mauritius untuk mengendalikan kumbang nyiur Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scolytidae) yang asli indonesia.
6.      Pada thun 1920-an perkebunan kelapa di sulawesi selatan dan pulau-pulau di sebelah utara dan timur jawa rusak berat oleh kumbang brontispa (Brontispa longissima,Coleoptera:Hispidae) sehingga produksi kelapa berkurang dan aktivitas ekspor terkendala. Sementara di pulau jawa populasi kumbang tersebut rendah karena terkendali secara alami oleh beberapa jenis parasitoid, yaitu parasitoid telur Ooencyrtus podontiae(hymenoptera:Encyrtidae), dan  parasitoid larvapupa Tetrastichus brontispae(hymenoptrea:Eulophidae) parasitoid telur haeckeliana brontispae (Hymenoptera:Trichogrammatidae).Di antara parasitoid-parasitoid itu yang paling efektif adalah Tetrastichus, sehingga para entologimiwan Belanda dan indonesi mendirikan fasilitas pembiakan masal Tetrastichus di bogor.
7.      Pada bulan Mei – Agustus tahun 1932 sebanyak 2.500 ekor pupa brontispa terparasit yang dihasilkan dari fasilitas itu dikirimkan  ke daerah-daerah serangan hama di sulawesi .Tabung-tabung bambu berlubang (untuk pintu keluar parasitoid) berisi pupa terparasit itu digantungkan pada pohon-pohon kelapa terserang.Pada bulan maret tahun 1933 pada berbagai tempat Tetratchus sudah mampu memarasit50% pupa lokal terapi belum tersebar secara meluas.Oleh karena itu pada tahun itu dilaukan introduksi parasitoid tahap kedua dengan mendatangkan 3000 ekor pupa terparasit. Upaya pengendalian ini cukup berhasil.Pada akhir tahun 1934 seorang teknisi yang sudah dilatih di bogor dalam sigi (survey)dan pembiakan masal Tetrastichus di tempatkan di sulawesi selatan,ia membiak masalkan parasitoid itu di suatu laboratorium lapangan dan “obat kelapa” yang dihasilkan disebarkan ke kebun-kebun kelapa yang terinfestasi berat.Pada tahun  1935  di sulawesi selatan sudah ada lima laboratorium  lapangan seperti itu,yaitu di kawasan makassar, jeneponto, sinjai, selayar, Dan Muna(kawasan ini sekarang termasuk provinsi Sulawesi Tenggara), yang mampu menyediakan “obat kelapa” yang cukup sehingga tidak perlu lagi mendatangkan dari jawa.Pada tahun 1936 setiap laboratorium lapangan tersebut mampu memberi tambahan dan menyebarkan 30.000 ekor pupa terparasit pada lokasi masing-masing.Hasilnya,parasitasi mancapai 60-90%, parasitoid berhasil dan produksi kelapa di pusat-pusat serangan hama di sulawesi selatan dapat diselamatkan. Aktifitas ekspor kopra di sulawesi selatan dapat dilanjut kembali.
8.      Pada tahun 1911 Progam yang juga berhasil adalah pengendalian hayati terhadap hama artona di jawa tengah. Musuh alami  dari hama artona ini antara lain parasitoid apanteles artonae (hymenoptera:braconiadae), euplectomorpha viridisceps (hyeulophidae), bessa(=ptychomyia) remota (diptera:tachinidae), argyrophylax fumipennis (=cadurcia leefmansi) pengendalian hama artona ini dikenalkan luas pada akhir tahun 1950-an.
9.      Pada awal 1970-an Eceng gondok tumbuh dan menutupi permukaan air dengan sangat cepat. Gulma ini menginvasi rawa-rawa, danau, sungai, dan terusan di berbagai kawasan tropis lainnya dan dapat dianggap sebagai gulam air terpenting di dunia. Kumbang moncong eksotik, Neochetina spp. (Coleoptera: Curculionidae) telah dimanfaatkan untuk mengendalikan eceng gondok (Eichhornia crassipes (Magnoliophyta: Pontederiaceae)) di indonesia. Pada akhir 1970-an, N.eichhorniae yang di datangkan dari amerika selatan dilepaskan di rawa pening, jawa tengah. Kumbang moncong ini memakan jaringan eceng gondok dan mematikannya sehingga luas tutupan permukaan air oleh gulma ini menjadi berkurang.
10.  Pada tahun 1970-an Dua hama penggerek buah menjadi kendala utama produksi kapas tersebut, yaitu Helicoverpo armigera (Lepidoptera: Noctuidae) dan Pectinophora gossypeilla (Lepidoptera: Gelechiidae). Pada akhir tahun 1980-an dari pertanaman kapas dan jagung di jawa timur dan nusa tenggara barat nurindah dan bindara ( cit. Sosromarsono, 2005) menemukan tiga jenis parasitoid telur, yaitu Trichogrammatidea armigera (Hymenoptera: Trichogrammatidae) dari telur Helicoverpa yang diletakan pada tanaman kapas.Pada akhir tahun 2001, dari eksplorsi yang dilkukan dikawasan asembagus dan lamongan (jawa timur), brebes (jawa tengah), dan bone (sulawesi selatan), nurindah et al. (2004) menemukan dua kelompok parasitoid Pectinophora, yaitu parasitoid telur (Trichogrammatidea spp.) dan parasitoid larva. Kedua golongan parasitoid ini berpotensi digunakan sebagai agens hayati terhadap ulat penggerek kapas tersebut; dengan  parasitasi telur mencapai 90% sedangkan parasitasi larva mencapai 24%.
11.  Pada tahun 1990-an terdapat penggerek buah kopi, Hypothenemus hampei (Coleoptera: Scolytidae) di lampung dan hama ini meraja real di lampung dan hama ini dikendalikan dengan penggunaan Cepahalonomia stephanoderis (Hymenoptera: Bethylidae) yang didatangkan dari afrika barat. Pada tahun 1992 pihak Laboratorium utama pengendalian hayati, dinas perkebunan provinsi lampung, telah melakukan enam kali pelepasan parasitoid (50 – 100 ekor pupa atau imago  parasitoid atau 525 pupa dan 475 ekor imago parasitoid) di pertanaman kopi di sumberjaya (lampung barat) dan pagelaran (tanggamus) (kustaryo, 1993). Kemudian pemantauan yang dilkukan oleh sujiati (1993) pada bulan april – juni 1993 menunjukkan bahwa parasitoid tersebut berhasil mapan di kedua kawasan tersebut dengan tingkat parasitasi rata-rata 17,6% (di pagelaran) – 27,2% (di sumberjaya) dan mampu memberikan dampak penekanan terhadap populasi pengerek buah kopi sebesar rata-rata  27%.
12.  Pada awal abad 21 indonesia kedatangan dua jenis hama baru yaitu pengorok daun Liriomyza spp. (Diptera: Agromyzidae) pada berbagai jenis tanaman sayuran dan tungau merah jeruk Panonychus citri (Acari: Tetranychidae). Program pengendalian hayati untuk hama-hama tersebut belum dicanangkan, tetapi keanegaraman musuh alami lokal yang berpotensi sebagai agens hayati sudah mulai diinventarisasi. Susilowati (cit. Sosromarsono, 2005) menemukan belasan spesies parasitoid dari famili eulophidae, eucoliidae, braconidae, atau pteromalidae (Hymenoptera) yang bersosiasi dengan lalat Liriomyza. Sementara itu puspitorni (cit. Sosromarsono, 2005) melaporkan bahwa tunggu merah jeruk berasosiasi dengan tungau predator Amblyseius longispinus (Acari:Phytoseiidae), tungau predator dari famili stigmaeidae, tirip predator scolothirips sp. (Thysanoptera: Thiripidae), dan jamur entomopatogen hirsutella sp. (Deuteromycetes: Moniliales). Yang paling berpotensi sebagai agens hayati adalah amblyseius.



BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Semakin banyaknya lingkungan yang tercermar akibat bahan kimia sehingga pertimbangkan sebelum melakukan berbagai pengambilan keputusan,termasuk sebelum melakukan tindakan pengendalian hama dalam taninya.Berbagai cara pengendalian hama tanaman telah dikenalkan manusia,namun tidak semua cara tersebut ramah terhadap lingkungan.Salah satu cara pengendalian hama yang dianggap ramah terhadap lingkungan adalah pengendalian hayati. Pengendalian hayati sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun yang lalu dan sudah diimplementasikan dalam perlindungan tanaman sejak abad ke 17. Pertengahan abad ke 20 popularitas pengendalian hayati seakan memudar karena gencarannya promosi pengendalian secara kimiawi yang ternyata menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan hidup.Baru pada akhir abad ke 20,pada saat manusia semakin sadar lingkungan,muncul kebutuhan untuk kembali kepada penngendalian hayati.
4.2 Saran
Yang dapat disarankan yaitu betapa pentingnnya menjaga lingkungan untuk menjaga kelangsungan hidup agen-agen hayati di lingkungan agar agen hayati sendiri dapat mengendalikan hama yang ganas menyerang hama-hama petani.









DAFTARA PUSTAKA
Purnomo.H.2011.pengendalian hayati.http//books/pengendalianhayati.html.diakses 28oktober 2015
Marwoto.O.2010. penendalian hayati dan agents. http//agrikecancanaperkasa .com /pengendalianhayatidanagents.html diakses 28 oktober 2015
Kalshoven, L.G.E 1981.pests of crops in indonesia (rev dan transi P.A. van der laan) P.T ichtiar baru van hoeve jakarta
Sherpard,B,M ,bariaon A,T dan litsinger J.a 1995 mitra petani srangga laba-laba dan patogen yang membantu(untung K. Dan wirjosuharji s.terj) IRRI-Program nasional pengendalian hama terpadu jakarta.
Noname.2010.juniera31.http//journal.uneir,ac,id/pdfjuniera31.htmldiakses 20oktober2015

0 comments: