Pages

Subscribe:
Powered By Blogger

Monday, 25 August 2014

penyakit fusarium (ilmu perlindungan tanaman)

KATA PENGANTAR

            Puji syukur saya panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmatNylah paper ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulisan paper   ini  merupakan tugas mata kuliah Ilmu Penyakit Tanaman.
Adapun hal yang dibahas dalam paper ini adalah mengenai ” Penyakit panama pada pohon pisang yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum ”. Proses penyusunan paper  ini tidak terlepas dari bantuan daru berbagai pihak. Oleh karena itu, sebagai rasa syukur dan hormat, melalui kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu dalam penyusunan paper ini.
      Disadari bahwa paper tugas mata kuliah Ilmu Penyakit Tanaman ini masih jauh dari sempurna, mengingat banyaknya keterbatasan yang saya miliki. Untuk itu diharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun baik dari segi penulisan maupun kedalaman materi demi kesempurnaan paper ini. Sebagai akhir kata semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.


Jimbaran, 18 agustus 2014


Penulis





BAB l
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Tanaman kopi (Coffea  spp.)  merupakan komoditas ekspor unggulan yang dikembangkan di Indonesia karena mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi di pasaran dunia. Permintaan kopi Indonesia dari waktu ke waktu terus meningkat karena seperti kopi Robusta mempunyai keunggulan bentuk yang cukup kuat  serta  kopi  Arabika mempunyai karakteristik cita rasa (acidity, aroma, flavour) yang unik dan ekselen (Yusianto, 2005).
Rendahnya produktivitas kopi di antaranya disebabkan adanya serangan OrganismePengganggu Tumbuhan (OPT). Beberapa jenis  OPT yang menyerang tanaman kopi di Sulawesi Selatan adalah hama  penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei  Ferr.), penggerek batang, (Zeuzera sp.,), Penggerek cabang (Xylosandrus spp.), kutu hijau (Cocus  viridis), kutu putih (Ferrisia virgata), penyakit karat daun (Hemileia vastatrix), Cercospora
Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Akibatnya,  jumlah hasil produksi mengalami penurunan hingga 30 persen, juga sangat meresahkan para petani kopi di daerah itu (Nababan, 2010).
Di pertanaman kopi banyak terdapat gangguan- gangguan yang sangat merugikan, salah satunya yaitu hama penggerek buah kopi (Pbko). Kumbang dan larva hama ini menyerang buah kopi yang sudah cukup keras dengan membuat liang gerekan dan hidup di dalam bijinya, sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah (Najiyati dan Danarti, 2001). Penerapan sistem agroforestri pada tanaman kopi yang dicirikan oleh banyaknya pohon penaung memberi beberapa manfaat. Sistem ini dapat meningkatkan keragaman hayati, mengkonservasi kesuburan tanah, dan meningkatkan kesehatan tanaman. Sistem agroforestri memiliki kemiripan dengan hutan yaitu ekosistemnya yang stabil sehingga mampu  menghambat perkembangan OPT pada tanaman kopi (Staver et al.,2001).
Di alam Pbko dapat diinfeksi oleh jamur patogen. Jamur-jamur yang dapat menyerang Pbko antara lain Beauveria bassiana, Metarhizium anisopl iae, Botryt is stephanoderis dan  Spicaria javanica (Sudarmo, 1989). Jamur-jamur pada umumnya dapat tumbuh pada keadaan lingkungan yang lembab. Sistem agroforestri kopi dengan pohon penaung diperkiraka dapat meningkatkan aktivitas jamur patogen sebagai musuh alami hama kopi ini. Informasi mengenai keterjadian penyakit jamur pada hama Pbko pada agroforestri masih terbatas.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas,  terdapat rumusan masalah yaitu sebagai berikut:

⦁    Hama merupakan kendala/musuh bagi bidang pertanian dan para usaha pertanian (petani)
⦁    Pengendalian hama yang masih belum optimal.
⦁    Bagaimana usaha dan cara yang tepat untuk pengendalian hama pengganggu taaman.


1.3  TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas,  adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah sebagai berikut :
a. Mengenal jenis-jenis hama pengganggu tanaman pertanian.
b. Mengetahui cara dan teknik pengendalia serangan hama pengganggu tanaman.
c. Mengambil langkah yang tepat dan terpadu terhadap jenis hama yang menyerang tanaman.

1.4  MANFAAT
Berdasarkan tujuan diatas, adapun manfaat dari penulisan paper ini adalah:
a. Mengurangi bahkan mencegah terjadinya serangan hama bagi tanaman.
b. Mengetahui dan dapat mengambil tindakan pengendalian secara tepat dan terpadu
c. Mendapatkan  hasil budidaya pertanian yang maksimal.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Layu fusarium merupakan penyakit penting pada berbagai jenis pisang dan salah satu penyakit yang sangat umum yang menyebabkan kehancuran pada tanaman pisang di daerah tropis maupun subtropis. Layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum f.sp. cubense (FOC). Sebagai cendawan yang bersifat penghuni, penyerbu, tular tanah dan penyebab layu yang berkolonisasi di pembuluh xylem, FOC memerlukan berpenetrasi melalui akar tanaman inang, sehingga dalam pengendaliannya perlu diusahakan memberikan perlindungan maupun induksi sistem ketahanan inang pada sistem perakaran. Pengendalian hayati patogen dengan agens antagonis yang diintegrasikan dengan pengendalian kultur teknis sebagai salah satu alternatif pengendalian diharapkan efektif dalam menekan patogen FOC di lapangan melalui perlindungan dan induksi ketahanan tanaman
Penyakit layu Fusarium pertama kali ditemukan menjadi endemik di daerah Panama pada tahun 1890 yang kemudian menghancurkan pertanaman pisang varietas Gros Michel (AAA) di Amerika Tengah dan Caribbean pada tahun 1950 dan 1960. • Sekarang penyakit ini sudah banyak ditemukan di daerah tropis maupun subtropis • Di Indonesia sendiri berdasarkan penelitian yang dilakukan penyakit ini menyebabkan kerugian lebih dari 35%
Penyakit ini menular melalui tanah, menyerang akar dan masuk kedalam bonggol pisang. Di dalam bonggol jamur merusak pembuluh sehingga menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati. Gejala-gejala yang dapat diamati pada tanaman pisang yang terserang penyakit ini antara lain ; 1. Pada daun tua nampak kuning kehijauan dimulai dari pinggir daun. 2. Penguningan berlanjut ke daun yang lebih muda. 3. Batang semu bagian bawah pecah membujur, apabila batang dipotong ditemukan berkas garis berwana hitam atau coklat. 4. Apabila bonggol dipotong bagian tengah berwarna hitam, coklat atau ungu. 5. Pada buah umumnya tidak sampai panen, apabila panen ukurannya menjadi lebih kecil, layu dan matang sebelum waktunya



BAB III
PEMBAHASAN
 2.1 Penyakit layu fusarium (penyakit panama) pada pohon pisang
Penyakit layu fusarium atau sering disebut penyakit panama pada tanaman pisang disebabkan oleh Fusarium Oxysporum f. Sp Cubense (FOC). Penyakit ini merupakan penyakit paling berbahaya yang menyerang tanaman pisang. Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian lebih dari 35 %.
Penyakit ini menular melalui tanah, menyerang akar dan masuk kedalam bonggol pisang. Didalam bonggol ini jamur merusak pembuluh sehingga menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati. Cendawan masuk melalui luka pada akar, kemudian berkembang merusak jaringan pembuluh kayu (xylem). Benang –benang cendawan (miselium) terutama terdapat dalam sel, khususnya terdapat dalam jaringan pembuluh kayu. Akibat kerusakan dan adanya miselium dalam jaringan tersebut sehingga transportasi makanan dan air terganggu, sehingga tanaman menjadi layu dan mati.

            F.oxysporum memiliki dua jenis konidium (spora) yaitu: makrokonidium yang berbentuk sabit,bertangkai kecil, dan kebanyakan bersel 4, berwarna hialin, dan berukuran sekitar 22-36 x 4-5 um serta mikronidium yang berbentuk jorong atau agak memanjang, bersel 1-2, hialin dan berukuran 5-7 x 25-3 um. Cendawan dapat bertahan lama didalam tanah sebagai klamidospora, yang banyak terdapat dalam akar yang sakit. Klamidospora terbentuk ditengah hifa (benang), sering kali berpasangan bersel satu, berbentuk jorong atau bulat dan berukuran 7-14 x 7-8 um.

2.1.1 Gejala-gejala dari penyakit tersebut adalah:
⦁    Menguningnya daun pisang dari mulai daun yang tua, menguning mulai dari pinggiran daun
⦁    Pecah batang, perubahan warna pada saluran pembuluh
⦁    Ruas daun memendek
⦁    Perubahan warna pada bonggol pisang
⦁    Biasanya batang yang terserang mengeluarkan bau busuk


Penyakit bisa menular sangat cepat jika penyebaran cendawan ini melalui air. Penyakit ini tak akan bisa diobati, yang bisa dilakukan adalah mencegahnya dengan cara-cara sebagai berikut:
⦁    Buang dan bakar tanaman pisang yang sudah terlanjur terserang penyaki ini.
⦁    Menanam lebih dari satu varietas atau menanan bibit yang sehat
⦁    Jangan memasukkan bibit, bonggol dan tanah dari daerah yang sudah terkontaminasi.
⦁    Gunakan bibit yang bebas penyakit (hasil kultur jaringan)
⦁    Bersihkan gulma di sekitar areal pertanaman
⦁    Tanam jenis pisang yang tahan terhadap penyakit FOC (ketan, tanduk, raja kinalun dan muli)
⦁    Menggunakan agensia hayati seperti Trichoderma sp dan Gliocadium sp dan Pseudomonas Fluorescens
Upaya pengendalian penyakit layu sudah banyak dilakukan termasuk pemakaian bahan kimia yang ternyata menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, untuk mengatasi masalah tersebut maka pengendali hayati menjadi sangat penting seperti penggunaan bakteri antagonis yang hidup di daerah perakaran, mempunyai prospek yang dapat berfungsi untuk menekan penyakit dan dapat mendorong pertumbuhan tanaman. Alternatif lain untuk  mengendalikan penyakit layu fusarium  adalah dengan memanfaatkan mikroba agen pengendali hayati. Pengendalian dengan cara ini dilaporkan cukup efektif dan belum ada yang melaporkan timbulnya ketahanan jamur patogen terhadap agen pengendali hayati (Freeman et al., 2002).
    

Pemanfaatan mikroorganisme antagonis yang ada dalam tanah mempunyai peluang yang cukup baik karena secara alamiah terdapat dalam tanah dan aktifitasnya dapat dirangsang dengan modifikasi lingkungan, biayanya relatif lebih murah untuk jangka panjang, aman bagi lingkungan biotik (tidak terakumulasi dalam rantai makanan) dan dapat digunakan bersama-sama dengan cara pengendalian yang telah ada. Pemanfaatan  jamur  antagonis merupakan salah satu alternatif untuk mengendalikan penyakit layu.
Penggunaan agens hayati kini mulai dikembangkan guna mengurangi penggunaan fungisida sintetik dalam mengendalikan patogen yang memiliki banyak kelemahan. Potensi utama dari Trichoderma spp. adalah sebagai agens pengendali hayati jamur patogen pada tanaman. Jamur ini secara alami merupakan parasit yang menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman (spektrum pengendalian luas). Jamur Trichoderma spp. dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman, pertumbuhannya sangat cepat dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman tingkat tinggi (Purwantisari dan Hastuti, 2009).

Menurut Sinaga (1986) dalam  Djaya et al. (2003) bahwa jamur Trichoderma spp. dapat menghambat  pertumbuhan  jamur  F. oxysporum, Phytium aphanidermatum, Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii. Trichoderma spp. adalah salah satu jamur antagonis yang dapat menekan atau menghambat perkembangan patogen tanaman. Mekanisme agens antagonis jamur termasuk Trichoderma spp. terhadap patogen adalah kompetisi, induksi ketahanan tanaman, mikoparasit, antibiosis, disebabkan karena memiliki beberapa kelebihan seperti kompetisi, antibiosis atau parasitik langsung dan mikoparasitik (Driesche dan Bellows, 1996).
Beberapa mikroba antagonis jamur seperti Trichoderma hamatum, Trichoderma viride, Trichoderma koningi, Gliocladium virens, Gliocladium roseum, Penicillium Janthinellum, Epicocum purpureum, Pythium nunn. Sedangkan bakteri antagonis seperti Bacillus subtilis, Bacillus polymixa, Pseudomonas fluorescens. Pseudomonas cepacia, Agrobacterium radiobacter dan Streptomyces spp. (aktinomiset) adalah agensia pengendali penyakit tanaman yang sudah sering digunakan dalam pengendalian hayati (Aryantha, 2001).

2.2 Cara Mengobati Layu Daun ( fusarium ) Pada Pohon Pisang Dengan Daun Sirih
Penyakit layu daun menjadi momok bagi pekebun pisang. Tak cuma produktivitas anjlok, penyakit akibat cendawan Fusarium oxysporum itu bisa membuat pohon pisang yang segar bugar siap berbuah menemui ajal. Itu bisa membuat pekebun gigit jari mengingat harga satuan bibit pisang yang berkisar Rp5.000 - Rp7.000.
      
Untunglah Philip H Evans, dosen di Departement of Entomology, New York State Agricultural Experiment Station, Cornell University, New York menemukan cara mengatasinya. Ia meneliti khasiat sirih kuning untuk mengatasi fusarium pada pisang. Caranya mudah, yaitu:
⦁    tumbuk 10-20 lembar daun sirih kuning.
⦁    Setelah halus, ambil 25-50 gram bubuk daun sirih lalu campur dalam 1 liter air.
⦁    Saring, diamkan 24 jam.
⦁    Selanjutnya semprotkan larutan pada pisang yang terserang.
2.3 Cara Pengendalian
Kultur teknis
⦁    Penggunaan galur /varietas yang tahan (belum diketahui ada varietas yang tahan terhadap strain F oxysporum di Indonesia).
⦁    Penggunaan benih sehat (dari kultur jaringan atau anakan tanaman sehat).
⦁    Pengunaan pupuk kompos yang matang yang disertai perlkuan agens anatgonis pada saat menjelang tanam.
⦁    Pemeliharaan yang baik yang mencegah pelukaan terhadap akar tanaman.
⦁    Pengiliran tanman yang tidak satu famili atau menjadi inang pathogen.
⦁    Sanitasi gulma dan perbaikan drainase kebun.

Mekanis
⦁    Pembongkaran /eradikasi tanaman sakit (dapat dibantu dengan injeksi herbisida setelah daun-daun tanaman dipotong).
Biologis
⦁    Modifikasi lingkungan untuk mengaktifkan agens antagonis yang ada dalam tanah, misalnya dengan pengunaan pupuk organic.
⦁    Aplikasi agens antagonis (misalnya gliocladium spp., Trichoderma spp., dan Pseudomonas fluorescens)
Kimiawi
⦁    Alat-alt yang digunakan untuk memotong tanaman sakit bersihkan/didesinfektan dengan formalin 5% atau dicuci bersih dengan sabun dan dikeringkan dibawah sinar matahari.
⦁    Benih/bibit pisang dicelupkan kedalam larutan desinfektan, misalnya larutan formalin 1% sebelum ditanam.
Karantina
⦁    Larangan membawa media atau bahan tanaman sakit dari daerah serangan ke daerah lain yang masih bebas penyakit.
⦁    Pengawasan benih antar daerah atau wilayah.























BAB IV
PENUTUP


KESIMPULAN

Penyakit layu fusarium merupakan penyakit pada tanaman pisang yang disebabkan oleh cendawan Fusarium Oxysporum f. Sp Cubense (FOC). Penyakit ini menular melalui tanah, menyerang akar dan masuk kedalam bonggol pisan, merusak pembuluh sehingga menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati. Upaya pengendalian penyakit layu sudah banyak dilakukan. Alternatif lain untuk  mengendalikan penyakit layu fusarium  adalah dengan memanfaatkan mikroba agen pengendali hayati. Menurut Sinaga (1986) dalam  Djaya et al. (2003) bahwa jamur Trichoderma spp. dapat menghambat  pertumbuhan  jamur  F. oxysporum




SARAN

⦁    Penggunaan benih sehat (dari kultur jaringan atau anakan tanaman sehat).
⦁    Pengiliran tanman yang tidak satu famili atau menjadi inang pathogen.
⦁    Sanitasi gulma dan perbaikan drainase kebun.

















DAFTAR PUSTAKA

http://mediailmuu.blogspot.com/2013/04/makalah-penyakit-tanaman.html
http://warasfarm.wordpress.com/2013/06/02/penyakit-layu-fusarium-penyakit-panama-pada-pohon-pisang/
http://polisafaris.blogspot.com/2010/04/pisang-merupakan-tanaman-buah-buahan.html
http://balitbu.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/hasil-penelitian-mainmenu-46/inovasi-teknologi/16-penelitianpengkajian2/352-cara-praktis-menanggulangi-penyakit-layu-pada-pisang
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27524

Sunday, 17 August 2014

PENOLAKAN TERHADAP SK GUBERNUR NOMOR 2138/02-C/HK/2012 TENTANG PEMBERIAN IZIN DAN HAK PEMANFAATAN PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN TELUK BENOA.



PENOLAKAN TERHADAP SK GUBERNUR NOMOR 2138/02-C/HK/2012 TENTANG PEMBERIAN IZIN DAN HAK PEMANFAATAN PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN TELUK BENOA.
Kepada Yth. Made Mangku Pastika Gubernur BALI
Dengan hormat,
            Melalui petisi ini, kami selaku mahasiswa di Universitas Udayana menyatakan sikap penolakan terhadap SK Gubernur Nomor 2138/02-C/HK/2012 tentang Pemberian Izin dan Hak Pemanfaatan Pengembangan dan Pengelolaan Teluk Benoa juga melanggar sejumlah peraturan perundang-undangan, di antaranya UU Nomor 27 tahun 2007 tentang WP3K di mana sebagain pasal terkait hak pengusahaan perairan pesisir sudah dicabut Mahkamah Konstitusi (MK). Tindakan yang dilakukan oleh Gubernur Bali juga telah melabrak sendiri Surat Edaran (SE) Gubernur Nomor 570/1665/BPM Tahun 2011 tentang penghentian sementara (moratorium) pembangunan hotel di Bali Selatan (Berita Bali Terkini, 2013). Untuk meredakan konflik yang sedang berkembang setelah masyarakat tahu tentang  keluarnya SK Gubernur, tindakan yang dilakukan Gubernur Bali selanjutnya adalah megundang berbagai kalangan untuk berbicara bersama dan memberikan pandangan di Kantor Gubernur.   Dalam ilmu kebijakan publik, bahwa penolakan masyarakat Bali terhadap SK Gubernur disebabkan karena banyak faktor. Menurut J.E. Anderson, menegaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Bali tidak mau menerima kebijakan publik berupa SK Gubernur tentang reklamasi Teluk Benoa, dikarenakan:
1.      Adanya kebijakan yang bertentangan dengan sistem nilai masyarakat. SK Gubernur tersebut secara tajam telah bertentangan dengan sistem nilai yang dianut masyarakat Bali, yaitu filosofi Tri Hita Karana dan Sad Kertih;

2.      Adanya konsep ketidakpatuhan selektif terhadap hukum. Masyarakat ada yang patuh, seperti para investor atau pelaku usaha yang ingin memanfaatkan keuntungan dari implementasi SK Gubernur tentang reklamasi Teluk Benoa. Tapi secara mayoritas masyarakat Bali menentang tentang kebijakan keluarnya SK Gubernur, karena dampaknya dampak merusak keajegan Bali;


3.      Adanya keanggotaan seseorang dalam suatu organisasi/kelompok. Masyarakat Bali bisa patuh atau tidak pada kebijakan keluaranya SK Gubernur, karena keterlibatannya dalam keanggotaan organisasi atau kelompok yang ide-ide gagasannya tidak sesuai dengan SK Gubernur tersebut, seperti organisasi Walhi, Kekal, Gempar dan lain-lain; dan
4.      Adanya ketidakpastian hukum. Sumber ketidakpatuhan atau penolakan masyarakat Bali pada SK Gubernur tersebut dapat pula terjadi karena ketidakjelasan aturan SK Gubernur yang bertentangan dengan peraturan-peraturan yang diatasnya (lebih tinggi).

Demikian petisi ini kami ajukan, sebagai upaya terhadap pemerhati keselamatan lingkungan di Bali. Secara umum, kami mahasiswa Universitas Udayana menginginkan adanya pembuatan kebijakan yang memerhatikan banyak aspek dan faktor. Pembuatan kebijakan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, yang tentunya tidak menimbulkan banyak efek negatif bagi kemaslahatan hidup masyarakat Bali.
Kami yang bertanda tangan di bawah ini mewakili masyarakat, mahasiswa, dan pemerhati lingkungan yang mengajukan PETISI: penolakan terhadap SK Gubernur Nomor 2138/02-C/HK/2012 tentang Pemberian Izin dan Hak Pemanfaatan Pengembangan dan Pengelolaan Teluk Benoa.

Wednesday, 18 June 2014

Bajra Sandhi, Sebuah Monumen Mengenang Perjuangan Rakyat Bali ( SMK N 2 DENPASAR )



Bajra Sandhi, Sebuah Monumen Mengenang Perjuangan Rakyat Bali
Pada tahun 1981, Ir. Ida Bagus Gede Yadnya, memenangkan kompetisi arsitektur yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi untuk monumen Bajra Sandhi. Kompetisi ini adalah pemenang penghargaan dengan proyek bangunan monumen untuk mengenang perjuangan rakyat Bali.
Ida Bagus Mantra, mantan Gubernur Bali, adalah orang yang memulai proyek monument ini, dan monumen itu akan dibangun untuk mengenang kerja keras dan perjuangan heroik dari rakyat Bali sebelum dan sesudah kemerdekaan. Bagaimanapun proses pembangunan monumen ini juga semacam perjuangan. Proses pembangunan dimulai pada tahun 1981, tetapi sempat terhenti selama beberapa tahun.
Monumen ini terletak di Niti Mandala, Renon, Denpasar, wilayah di mana sebagian besar kantor-kantor pemerintahan berada. Monumen ini berdiri anggun di tengah lapangan hijau yang biasanya digunakan oleh masyarakat untuk olahraga seperti jogging, sepak bola, dan bola basket selama sesi pagi atau sore hari, dan selalu penuh dengan orang yang melakukan kegiatan pada hari Minggu pagi.
Arsitektur monumen ini sangat unik, mengambil bentuk Bajra atau Genta, peralatan yang digunakan oleh Pandita Hindu selama upacara keagamaan. Hal ini juga merupakan simbol ikatan antara laki-laki dan perempuan yang menciptakan kemakmuran sesuai dengan epik yang bercerita tentang perjuangan para dewa untuk mendapatkan Tirta Amerta.
Setiap patung dan setiap ukiran di kompleks monumen memiliki arti tersendiri. Seluruh monumen melambangkan Gunung Mandara, di mana menurut epic Mahabarata, para dewa melakukan pertempuran dengan para raksasa memperebutkan Tirta Amerta. Arsitektur juga melambangkan nasionalisme dengan 17 gerbang utama, 8 pilar, dan ketinggian monumem mencapai 45 meter, untuk mencerminkan 17 Agustus 1945 yang merupakan hari kemerdekaan negara.
Memasuki monumen, dari bagian bawah anda harus menaiki tangga yang akan membawa anda ke sebuah taman, maka terdapat beberapa tangga lagi untuk masuk ke dalam dimana terdapat kolam ikan di dalamnya. Lalu terdepat beberapa tangga lain untuk sampai ke ruang utama di mana anda dapat melihat berbagai diorama yang menceritakan kisah kehidupan di Bali dari jaman batu sampai era kemerdekaan.
Banjra Sandhi memiliki ruang di bagian atas dimana hanya terdapat akses tangga di tengah kolam. Dari ruangan tersebut, anda dapat melihat rumput hijau lapangan, atap rumah, dan bangunan disekitarnya mendominasi pemandangan. Desain yang unik dari Bajra Sandhi menarik banyak pengunjung setiap hari, dan pameran seni seperti foto atau lukisan kompetisi sering berlangsung di ruang pameran.
Bahkan terdapat pemandangan yang lebih indah di luar ruang diorama, di mana anda dapat menikmati pemandangan sambil menikmati angin yang bertiup.










Bajra Sandhi Monument is a monument to admire Balinese people struggle from time to time.[1] The monument is located in front of the Bali Governor's Office in Renon, Denpasar, Bali.Coordinates: Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/55/WMA_button2b.png/17px-WMA_button2b.png8°40′18″S 115°14′2″E
[edit]Structure
Overall the area of the monument is rectangular with its application of Tri Mandala. It divide by 3 area[1]:
1.    Utama Mandala is a main building in the middle
2.    Madya Mandala is a courtyard that surrounds Utama Mandala
3.    Nista Mandala is the outer courtyard surrounding the Madya Mandala
Main building of the monument (Utama Mandala) consist of 3 floor[1]:
·         Utamaning Utama Mandala is on the third floor as a place of tranquility, a place of silence and enjoying the view around the monument. Visitors can see the panorama of Denpasar from this place. To reach this place the visitor must pass a long stairs.
·         Madyaning Utama Mandala is the second floor as a dioramas, with the total is 33 units. Second floor is a place to see the miniature of Balinese people's struggle from time to time. The diorama is similar to National Monument in Jakarta. But, here is only shows the struggle of the Balinese people. It starts from the beginning of the Balinese kingdom, the entrance of Hinduism, Majapahit era, Netherlands colonialism, struggle of independence, until the present.
·         Nistaning Utama Mandala is a ground floor of the building, which containing the information room, Librarianship room, exhibit room, conference room, administrative room, and restrooms. In the middle of the room there is a lake that is named as Puser Tasik.

PANDUAN PRAKTIKUM BIOLOGI TANAH , fakultas pertanian , universitas udayana



I. STERILISASI PERALATAN LAB DAN BAHAN
1.1 Pendahuluan        
Sterilisasi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau didalam suatu benda. Cara sterilisai dapat dibagi atas tiga jenis utama , yaitu menggunakan panas , bahan kimia , dan peyaringan. Strelesasi menggunakan panas dapat dibagi  atas dua metode , yaitu sterilisasi panas lembab dan serilisai panas kering. Sterilisasi panas lebab dan penyaringan umumnya digunakan untuk bahan, sedangkan sterilisai peraltan LAB dilakukan dengan metode panas dan pengunaan bahan kimia.
            Sterilisasi panas basah dilakukan dengan autoklaf pada tekanan 15 psi pada suhu 120oC selama 20 menit. Pnas yang dilepaskan mampu mendenaturasi atau mengkoagulasikan protein yang terkandung didalam tubuh jasad mikro. Oleh karena itu, metode panas lembab sangat efektif membunuh jasad mikro pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Metode ini biasannya digunakan untuk medium buatan, larutan, fisiologis, akuadest, dan pealtan lab.
            Sterilisasi panas kering biasannya digunkan untuk mensterilisasikan perlatan dari bahan pecah-belah , jarum suntik, atau bahanyang tidak daat ditembus uap air, seperti gliserin, minyak , vasein, dan bahan-bahan dalam bentuk serbuk. Suhu yang umum digunakan dalam metode ini adalah 170oC slama 1jam atau 160oC selama 2 jam.
            Sterilisai peralatan lab dengan bahan kimia, umumnnya digunakan larutan sublimate 0,1% dan larutan fenol 2% atau larutan Lysol. Dalam menggunakan bahan-bahan ini perlu diperhatikan agar tidak terdapat sisa-sisa bahan kimia tersebuat pada alat, karena bahan-bahan tersebut dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan jasad mikro yang diteliti.
            Peralatan gelas, seperti pipet dapat disterilisasikan secara cepat melalui pencucian dengan mengunakan larutan fenol 5% kemudian dengan larutan alkohol pekat, dan terakhir dengan ether. Ether yang masih tertinggal pada alat keringan dengan cara memanggang alat secara hati-hati diatas api.
            Metode sterilisasi sederhana yang juga bisa dilakukan , antara lain pasteurisasi dengan pemanasan pada suhu 70oC, pembakaran jarum ose  diatas api bunsen sampai bahan yang melekat dibakar menjadi abu dan dibersihkan dengan kain halus, atau penggunaan alkohol, serta pencucian dengan deterjen.

1.2 Peralatan Dan Bahan
             Peralatan yang dgunakan adalah autoklaf, oven, cawan petri dan pipet. Bahan-bahan yang akan disterilisasikan seperti media tumbuh dan larutan fisiologis.
1.3 Cara Kerja Metode Panas Lembab
1.      Tuangkan air secukupnya kedalam autoklaf.
2.      Masukkan peralatan dan bahan-bahan yang akan disterilisasikan kedalam autoklaf ditata sedemikian rupa agar terdapat cukup ruang bagi peredaran udara/uap didalam autoklaf.
3.      Tutup autoklaf dengan cara memasukkan tabung pebgeluaran gaskedalam saluran pengarah pada dinding bagian dalam autoklaf, diikuti dengan mempertemukan masing-masing buat pengunci luar pada tepi autoklaf dan penutupnnya.
4.      Angkat masing-masing baut pengunci dan kencangkan setiap mur pada arah diagonal secara bersama sampai seluruh mur tertutup rapat.
5.      Panaskan autoklaf dan buka pengantur klep pengaman.
6.      Setelah terdengar suara mendesis yang menunjukkan uap air keluar dengan deras, tutup kembali klep pengaman sehingga tekanan dalam tabung autoklaf meningkat.
7.      Bila tekanan 15 psi telah tercapai (suhu sekitar 121oC) pertahankan tekanan selama 20 menit dengan megatur besarnya api pemanasan.
8.      Pada akhir proses sterilisasi, matikn pemanas dan tunggu sampai tekanan kembali nol, kemudian buka katup pengaman untuk mengeluarkan sisa-sisa uap air yang tersisa didalam autoklaf.
9.      Setelah dingin, kendurkan mur-mur dan buka tutup autoklaf seta keluarkan peralatan dan bahan-bahan yang telah disterilisasi.
10.  Buang sisa air yang ada di dalam autoklaf, kemudian keringkan dan tutup kembali autoklaf.

1.4  Metode Panas Kering.
1.      Tempat kan peralatan ( cawan petri dan pipet) yang akan di sterilkan didalam oven.
2.      Nyalakan oven dan atur suhu pada 160oC,
3.      Matikan oven setelah suhu 160oC diperhatikan selama 2 jam.
4.      Setelah dingin, pindahkan peralatan yang disertai kedalam wadah penyimpanan.


II. PEMBUATAN SERI PENGENCERAN

2.1 Pendahuluan
Dalam penetapan populasi jasad mikro tanah. Perlu dilakukan seri penenceran, karena pupolasi didalam tanah sangat tinggi. Larutan pengenceran yang sering digunakan adalah larutan fisiologis (8,5 g NaCl L-1 akuades). Larutan pengencer yang juga sering digunakan adalah larutan 0,1 % proteosepepton. Penggunaan akuades sebagai lautan pengenceran sebaiknnya dihindari, karena dapat menggangu bahkan membunuh jasad mikro akibat dari perbedaan tekanan osmosis yang cukup besar antara tekanan di dalam sel dengan tekanan diluar sel.
Tingkat pengenceran ditentukan sesuai dengan perkiraan populasi jasad mikro di daam tanah. Semakin subur tanah yang damati, maka perkiraan populasi jasad mikro semakin tinggi  sehingga tingkat pengenceran yag diperlukan akan semakin tinggi. Untuk penetapan jumlah jasad mikro total, biasannya digunakan pengenceran seper 10-4 sampao 109 ( biasannya di tulis 10-4 dan 10-9).

2.2 Peralatan Dan Bahan.
            Peralatan yang diperlukan adalah laminair flow, erlenmeyer, tabung reaksi, pipet dan lampu bunsen. Bahan yang dugunakan adalah larutan fisiologis (lampiran 1), alkohol, dan spiritus.

2.3 Cara Kerja.
1.      Masukkan 10g tanah sampel ke dalam 90 mL larutan fisiologis yang ditempakan dalam erlenmeyer 250 mL steril, lalu dikocok selama 15 menit, sehingga diperoleh suspensi tanah dengan tingkat pengenceran 10 kali yang biasa ditulis 10-1. Kode ini ditulis pada tabung reaksi untuk menghindari kekeliruan.
2.      Pipet 1 mL suspensi tanah dari 10-1  ke dalam 9  mL. Larutan fisiologis dalam tabung reaksi yang telah disetrika sehingga diperoleh suspensi pengenceran 100 kali atau    10-2.
3.      kocok secara merata suspensi tanah tersebut, kemudian pipet 1 mL suspensi tanah dari kepekatan 10-2 kedalam 9 mL. Larutan fisiologis dalam tabung reaksi singga diperoleh suspensi dengan kepekatan 10-3. Harap diperhatikan agar selama pengocokan, kapas penutup tabung reaksi tidak terkena suspensi jasad mikro.
4.      Lakukan tahapan seri pengenceran tesebut sampai diperoleh kepekatan sebesar 10-9 seperti diperlihatkan gambar 1.




 

























III. PENETAPAN JUMLAH JASAD MIKRO TANAH TOTAL.

3.1 Pendahuluan
            Jumlah jasad mikro total yang terdapat didalam tanah dapat digunakan sebagai penduga status kesuburan tanah, tanpa mempertimbangkan hal-hal lain. Memang tanah yang subur mengandug jumlah jasad mikro yang tinggi. Popilasi yang tinggi ini mengggambarkan adanya suplai makanan dan energi yang cukup, an kondisi ekologi yang mendukung perkembangan jasad mikro tersebu didalam tanah. Akan tetapi, dua jenis tanah yang mempunyai jumlah atau kegiatan jasad mikro yang sebnading dapat mempunyai tingkat produktivitas yang berbeda karena tingkat kesuburannnya berbeda.
            Jumlah jasad mikro total sangat berguna dalam menentukan tempat jasad mikro dalam hubungan dengan sistem perakaran, sisa bahan oerganik, dan kedalam profil tanah. Data ini juga berguna dalam membandingkan keragaman iklim dan pengolahan tanah terhadap aktivitas jasad mikro di dalam tanah.
            Metode yang sering digunakan untuk menetapkan jumlah jasad mikro total di dalam tanah adalah metode agar-cawan. Pada prinsipnya, cara ini dimulai dengan pembuata larutan tanah atau bahan lain yang mengandung sel jasad mikro, spora, atau potongan miselium, yang mempunyai kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang cukup baik, bila keadaan lingkungan memungkinkan. Suspesi yang diamati didapat dengan membuat seri pengenceran. Oleh karena itu, metode agar-cawan ini sering disebut sebagai cawan pengenceran (dilution plate) atau penghitung mikro dengan pengenceran (dilution count).
            Asumsi utama dari metode ini adalah bahwa tiap jasad mikro yang hidup dalam suspensi tanah dapat berkembang membentuk suatu koloni jika keadaan lingkungan memungkinkan. Kenyataan menunjukkan bawha tidak semua jasad mikro dapat tumbuh pada media agar-cawan, dari jumlah jasad mikro total yang benar-benar ada. Metode ini dapat digunakan dengan baik untuk membandingkan populasi jasad mikro tanah yang satu dengan tanah yang lainnya.
3.2 Peralatan Dan Bahan
            Peralatan yang  diperlukan dalam praktikum ini adalah laminair flow, erlenmeyer, tabung reasi, cawan petri, pipet, dan lampu bunsen. Bahan yang diperlukan adalah larutan fisiologis, media bacto agar(lampiran 2), dan alkohol.
3.3 Cara Kerja.
1.      Siapkan seri pengenceran tanah sampai 10-7.
2.      Pipet masing-masing 1 mL suspensi tanah dari tingkat pengenceran 10-7, 10-6, dan 10-5 kedalam cawan petri yang telah disterilkan. Jangan lua memberi kode pada cawan petri dengan mencantumkan : nama kelompok, nomor contoh/perlakuan, tingkat pengenceran, tanggal inkubasi, dan media yang digunakan, seperti pada gambar 2.
3.      Tuangkan media agar yang telah disiapkan (temperatur 40-45oC) kedalam cawan petri sebanyak 10-15 mL, kemudian secara perlahan-lahan diputar kearah kanan dan kiri masing-masing sebanyak 3 kali.
4.      Diamkan sampai media agar memadat, kemudian inkubasikan pada inkbator selama satu minggu dalam keadaan terbalik untuk menghindari pengembunan pada tutup cawan petri.
5.      Pengamatan dilakukan dengan mencatat jumlah koloni yang tumbuh dan hitung jumlah populasi jasad mikro total dengan rumus :

Jumlah jasad mikro    = [( p1 : 100) + (p2 : 10) + (p3)]  x 107 x (100 + KA)
Total (spk g-1 tanah)                        3                                                 100

Keterangan :
Spk           : satuan pembentuk koloni
P1  :  jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-7
P2  : jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-6
P3  : jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-5
KA           : kadar air tanah









Gambar 2. Informasi yang harus dicantumkan pada cawan petri
 
 



 

3.4 Hasil Dan Pembahansan




IV PENETAPAN POPULASI JASAD MIKRO SELULOLITIK

4.1   Pendahuluan
Selulose merupakan komponen terbesar penyusun jaringan tumbuh. Senyawa organik tersebut  umumnya tidak  udah dimanfaatkan oleh jasad ,ikro tanah. Beberapa jasad mikro mempunyai kemampuan untuk merombak selulose menjadi senyawa organik sederhana, sehingga dapat dimanfaatkan oleh jasad mikro lainnya. Jasad mikro selulolitik. Isolasi jasad mikro tersebut dilakukan dengan menggunakan media semi selektif dengan selulose sebagai satu-satunya sumber karbon.
Salah satu media yang sering digunakan untuk mengisolasi jasad mikro sesulolitik adalah media CMC ( carboxy-methyk cellulose) penambah larutan phenol red dipermukaan media tersebut pada akhir pengamatan perlu dilakuan untuk membedakan jaad mikro selulolitik dengan jasad mikro yang tidak mampu merombak selulose. Koloni jasad mikro sesulotik pada media CMC yang ditambahkan phenol red memiliki zone terang disekitas koloni.
4.2   Peralatan Dan Bahan.
Peralatan yang diperlukan dalam praktikum ini adala laminair flow, erlenmeyer, tabung reaksi, cawan petri, pipet, dan lampu bunsen. Bahan yang diperlukan adalah larutan  fisiologis, media CMC (lampiran 3), dan alkohol.
4.3  Cara Kerja
1.      siapkan seri penganceran tanah sampai 10-6.
2.      Pipet masing-masing 1 mL suspensi tanah dari tingkat pengenceran 10-6, 10-5, dan 10-4 kedalam cawan petri yang telah disterilkan dan jangan lupa memberi kode pada cawan petri dengan mencantumkan :  nama kelompok, nomor contoh/perlakuan, tingkat pengenceran, tanggal inkubasi dan media yang digunakan, seperti gambar 2.
3.      Tuangan media CMC yang telah disiapkan ( temperatur 40-45oC) kedalam cawan petri sebanyak 10-15 mL, kemudian secara perlahan-lahan diputar kearah kanan dan kiri masing-masing 3 kali.
4.      Diaman sampai media aga memadat, kemudian inkubasikan pada inkubator selama 1 minggu dalam keadaan terbalik untuk menghindari pengembunan pada tutup cawan petri.
5.      Pada akhir inkubasi, tuangkan phenol red sampai menutupi permukaan agar diamkan sejenak.
6.      Pengamatan dilakukan dengan mencatat jumlah koloni yang memilih tempat terang disekelilingnya dan hitung jumlah populasi jasad ikro selulolitik dengan rumus :
Jumlah jasad mikro = [ (P1 : 100)  +  (P2 : 10) + (P3) ] X 106 X (100 + KA )
Total(spk g-1tanah)                             3                                              100


Keterangan :
Spk      : satuan pembentuk koloni
P1         : jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-6
P2         : jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-5
P3         : jumlah koloni pada sampel pengenceran 10-4
KA      : kadar air tanah.
7.       Ukuran luas zone bening dari setiap koloni.
8.      Pindahkan koloni tersebut kemedia padat yang telah disediakan untuk permunian.


4.4  Hasil Dan Pembahasan





V. METODE MOST PROBABLE NUMBER (MPN)
5.1 Pendahuluan
Metode most probable number (MPN) memungkinkan kita untuk menduga populasi jazad mikro tanpa menghitung jumlah sel atau koloni. Metode ini juga sering disebut metode pengenceran. Metode MPN didasarkan pada penentuan ada tidaknnya jasad mikro didalam tempat inkubasi (tabung reaksi) yang dinokulasikan dengan suatu seri pengenceran suspenss tanah atau bahan lain.
            Syarat dari metode ini adalah jasad mikro yang ingin ditetapkan mempunyai sifat-sifat yang mudah dikenal dalam substrat. Dalam hal iniperubahan hasil reaksi yang positif menunjukan paling tidak satu jasad mikro dalam sampel tersebut pada waktu inkubasi.
5.2 Peralatan Dan Bahan
            Peralatan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah laminair flow, erlenmeyer, tabung reaksi, pipet, dab lampu bunsen. Bahan yang diperlukan adalah larutan fisiologis, media sesuai jasad mikro yang di teliti, dan alkohol.
5.3 Cara Kerja
1.      Siapkan seri pengenceran 10-1 sampai 10-7
2.      Pipet sebanyak tiga kali ulang 1 ML suspensi dari pengenceran 10-7 dan masukkan ke dalam tabung yang berisi medium cair yang cocok untuk inokulum yang diteliti.
3.      Lanjutkan untuk pengenceran 10-6, dan 10-5.
4.      Inkubasi tabung-tabung yang telah diinkulasi selama satu minggu.
5.      Pada akhir masa inkubasi, amati pertumbuhan jasad mikro pada setiap tabung dan catat jumlah tabung yang menunjukan pertumbuhan positif. Adanya pertumbuhan jasad mikro ditandai oleh adanya kekeruhan , pembentukan gas , dan gumpalan berbentuk cincin pada bagian atas tabung.
6.      Tentukan nilai MPN yang diperoleh berdasarkan Tabel 1.
7.      Hitung populasi jasad mikro dengan rumus :

Hasil MPN x tingkat pengenceran tertinggi x (100 + KA )/100



Tabel 1. Nilai MPN untuk tiga ulangan bagi setiap pengenceran (McCrady)(Verstraete, 1981 dalam Anas, 1989)

Hasil

MPN
Hasil
MPN
Hasil
MPN
000
0.0
201
1.4
302
6.5
001
0.3
202
2.0
310
4.5
010
0.3
210
1.5
311
7.5
011
0.6
211
2.0
312
11.5
020
0.6
212
3.0
313
16.0
100
0.4
220
2.0
320
9.5
101
0.7
221
3.0
321
15.0
102
1.1
222
3.5
322
20.0
110
0.7
223
4.0
323
30.0
111
1.1
230
3.0
330
25.0
120
1.1
231
3.5
331
45.0
121
1.5
232
4.0
332
110.0
130
1.6
300
2.5
333
140.0
200
0.9
301
4.0




5.4 Hasil dan Pembahasan.


VI. METODE MPN UNTUK PENETAPAN POPULASI NITROSOMONAS

6.1 Pendahuluan

Bakteri tanah yang mengoksidasi ammonium menjadi nitrit dan nitrat adalah bakteri yang bersifat khemoototrof. Pada tahap pertama , annonium diosidasi menjadi nitrit ileh bakteri kelompok nitrosomonas. Pada tahapan kedua, nitrit dioksidasi menjadi nitrat ileh bakteri nitrobacter. Kedua kelompok  bakteri ini disebut kelompok bakteri nitrifikasi.
            Sifat khemoototrof yang dimiliki oleh kedua bakteri ini digunakan untuk menghitung dan memisahkan mereka dari jasad mikro tanah yang lainnya. Nitrosomonas diinokulasi dalam medium organik yang mengandung ammonium sebagai sumber nitrogen. Bila ada Nitrosomonas tidak ada, karena ada kemungkinan ada bakteri lain yang dapat mengoksidasi atau ammonium menjadi nitrat.

6.2 Peralatan Dan Bahan.

            Peralatan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah laminair flow, erlenmeyer, tabung reaksi, pipet, dan lampu Bunsen. Bahan yang diperlukan adalah larutan fisiologis, media untuk nitrosomonas Lampiran 4, dan alkohol.

6.3 Cara Kerja

1.      Siapkan tanah sample dan buatlah seri pengenceran sampai tingkat 10-6
2.      Pipet sebanyak tiga kali ulang 1 mL suspensi dari pengenceran 10-6 dan masukkan kedalam tabung yang berisi medium cair yang cocok untuk iokulum yang diteliti.
3.      Lanjutkan untuk pengencean 10-5, dan 10-4.
4.      Inkubasi tabung – tabung yang telah diinkulasi selama 4 minggu.
5.      Pada akhir masa inkubasi , amati pertumbuhan jasad mikro pada setiap tabung dan catat jumlah tabung yang menunjukan pertumbuhan positif. Adanya pertumbuhan nitrosomonas ditandai oleh adanya perubahan warna menjadi kuning.
6.      Tentukan nilai MPN yang diperoleh berdasarkan Tabel 1.
7.      Hitung populasi jasad mikro dengan rumus :
Hasil MPN x tingkat pengenceran tertinggi x (100 + KA)/100

6.4 Hasil dan Pembahasan.


VII. METODE MPN UNTUK JASAD MIKRO PENGURAI PATI
7.1   Peralatan Dan Bahan.
Peralatan yang diperlukan dalam praktikum ini laminair flow, erlenmeyer, tabung reaksi, pipet, dan lampu bunsen. Bahan yang diperlukan adalah larutan fisiologis, media untuk jasad mikro pengurai pati ( lampiran 5 ), dan alkohol.

7.2  Cara Kerja

1.      siapkan tanah sampel dan buatlah seri pengenceran sampai tingkat 10-6
2.      pipet sebanyak tiga kali ulang 1 mL suspensi dari pengenceran 10-6 dan masukkan kedalam tabung yang berisi medium cair yang cocok untuk untk inokulum yang diteliti.
3.      Lanjutkan untuk pengenceran 10-5, dan 10-4.
4.      Inkubasi tabung-tabung yang telah diinkulasi selama seminggu.
5.      Pada akhir masa inkubasi tambahkan 2 tetes reagen jodium dan amati pertmbuhan jasad mikro pada setap tabung, serta catat jumlah tabung yang menunjukan pertumbuhan positif. Adanya pertumbuhan jasad mikro amilolitik ditandai leh tidak adanya warna biru. Warna biru menandakan bahwa pati tetap ada, berarti tidak ada bakteri amilolitik yang berkembang didalam tabung reaksi tersebut.
6.      Tentukan nilai MPN yang diperoleh berdsarkan Tabel 1.
7.      Hitung populasi jasad mikro dengan rumus :

Hasil MPN x tingkat pengenceran tertinggi x (100 + KA)/100
7.3 Hasil Dan Pembahan


VIII. RESPIRASI TANAH

8.1 Pendahuluan
            Respirasi tanah merupakan salah satu petunjuk aktivitas jasad mikro tanah, dengan mengukur CO2 yang dihasilkan atau O2 yang  dibutuhkan oleh jasad mikro tanah. Pengukur respirasi tanah, merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktivitas jasad mikro tanah, alasannya adalah hasil yang diperoleh cukup peka, konsisten penetapannya sederhana dan cepat, serta tidak memerlukan alat yang sangat mahal dan canggih.
            Banyak sekali metode yang telah digunakan untuk menetapkan respirasi dalam penetapan CO2 secara kuantitatif, sebagaian metode ini berdasarkan penyerapan CO2 oleh basa. Basa yang paling sering digunakan KOH atau NaOH. Salah satu metode yang paling sederhana dan sering digunakan adalah verstraete.

8.2 Peralatan Dan Bahan.
            Pelatan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah beaker gelas/toples pastik kedap udara, buret, pipet, dan botol film. Bahan yang diperlukan adalah tanah lembab, KOH0,2 N, HC1 0,1 N, phenolptalin (PP), methyl orange, dan akuades.

8.3 Cara Kerja
1.       Tempatkan 100g tanah lembab didalam beaker gelas/toples plastik.
2.      Tempatkan 2 botol film yang berisi 10 mL akuades dan 5 mL KOH 0,1 N didalam beaker/toples yang berisi tanah
3.      Tutup rapat beaker/toples kemudian diinkubasi ditempat gelap selama 7hari.
4.      Buat blanko(tanpa tanah) dan diinkubasi ditempat yang sama.
5.      Pada akhir inkubasi, tabah 2 tetes larutan  PP kedalam KOH dalam botol film sampai terjadi perubahan warna menjadi pink.
6.      Selanjutnya dititrasi dengan larutan HC1 0.1 N sampai warna pink hilang, kemudian teteskan methyl orange sehingga timbul warna kuning.
7.      Titrasi kembali dengan HC1 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari kuning menjadi pink. Perubahan warna tidak terlalu kentara, oleh  karena itu harus hati-hati untuk menentukan titik akhir titrasi. Catat jumlah HC1 yang digunakan dalam titrasi kedua, karena berhubungan  langsung dengan jumlah CO2 yang difiksasi.
8.      Hitung kadar CO2 tanah lembab dengan rumus :


Mg C-CO2 Kg-1 tanah hari-1 = (s – b) x 0,1 x 120
                                                   n
 keterangan :
s  = mL HC1 titrasi substrat
b = mL HCL titrasi blanko.
n = jumlah hari inkubasi.

8.4 Hasil Dan Pembahasan