Pages

Subscribe:

Wednesday, 16 September 2015

BAWANG MERAH



Beberapa waktu lalu, bawang merah ramai diberitakan media Indonesia karena harganya yang melonjak fantastis. Kebetulan saya pernah dapat tugas dari dosen untuk menulis tentang bawang merah dengan format penulisan Tinjauan Pustaka. Jadi, tulisan dari berbagai referensi tersebut saya lampirkan di bawah ini, semoga dapat bermanfaat. Bawang merah (Allium cepa, grup Aggregatum) merupakan komoditas holtikultura yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tanaman ini umumnya ditanam dua kali dalam satu tahun, meskipun ada yang bisa ditanam sepanjang tahun.
Berdasarkan sejarahnya, tanaman bawang merupakan tanaman tertua dari dari silsilah peradaban manusia. Menurut perkiraan para ahli, bawang merah tumbuh pertama kali di wilayah Asia Tengah, di sekitar Palestina (Sunarjono dan Soedomo, 1989 dalam Ameriana dan Sutiarso, 1995). Kemudian pada abad VIII, tanaman ini menyebar ke wilayah Eropa Barat, Eropa Timur, dan Spanyol. Selanjutnya, dari negara-negara ini, tanaman bawang merah menyebar luas ke Amerika, Asia Timur, dan Asia Tenggara (Wibowo, 1991 dalam Ameriana dan Sutiarso, 1995). Di Indonesia sendiri, sentra produksi bawang merah yang terkenal adalah Brebes, Cirebon, Tegal, Kuningan, Wates, Lombok Timur, dan Samosir.
Pada budidaya bawang merah, faktor iklim merupakan faktor yang paling berpengaruh. Apabila iklimnya sesuai, maka hampir semua tipe tanah dapat digunakan dalam budidaya bawang merah. Unsur-unsur yang termasuk dalam faktor iklim, yaitu seperti ketinggian tempat, suhu, kelembaban, cahaya, curah hujan, dan angin. Tanaman bawang merah dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi 800 dpl. Pertumbuhan optimal dijumpai di daerah dengan ketinggian antara 10-250 m dpl (Anon, 1985 dalam Sumarni dan Sumiati, 1995). Tanaman bawang merah dapat menghasilkan umbi yang baik pada suhu udara antara 20o-30o C, dengan suhu rata-rata 24oC (Grubben, 1990 dalam Sumarni dan Sumiati, 1995).
Sehubungan dengan lokasi sentra produksi bawang merah yang tersebar, terutama pulau Jawa, diketahui bahwa bawang merah bisa dibudidayakan hampir di seluruh Indonesia, kecuali DKI Jakarta, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Penyebaran yang cukup luas tersebut dikarenakan tanaman bawang merah dapat ditanam dan tumbuh antara 0-1000 meter di atas permukaan laut (dpl) dan hampir semua jenis tanah di Indonesia. Tanaman bawang merah membutuhkan lingkungan tumbuh yang mendukung. Dua faktor yang mempengaruhi adalah iklim dan tanah. Data hasil produksi dan luas panen bawang merah di Indonesia disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Produksi dan Luas Panen Bawang Merah di Indonesia
Wilayah
Produksi (ribu ton)
LuasPanen (ribu ha)
2001
2002
2001
2002
Jawa
665,0
596,3
62,5
67,2
Bali & NusaTenggara
129,3
115,9
8,7
9,4
Sumatera
43,3
38,8
5,4
5,8
Kalimantan
0,1
0,1
0,0
0,0
Sulawesi
18,7
16,8
5,2
5,6
Maluku & Papua
4,8
4,3
0,4
0,4
Luar Jawa
196,2
175,9
19,7
21,2
Indonesia
861,2
772,1
82,2
88,4
Daerah yang menjadi produsen bawang merah terbesar di pulau Jawa adalah Kabupaten Brebes. Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes, sentra produksi bawang merah di wilayah Brebes Utara dan Brebes Tengah tersebar di 11 Kecamatan. Bawang merah menjadi produk unggulan di Kabupaten Brebes, dengan produksi rata-rata pertahun selama 5 tahun terakhir mencapai 1.750.588 kw dengan luas panen 19.405 Ha (Disperindag, 2012).
Selanjutnya, pada tahun 2010, produksi bawang merah Kabupaten Brebes tercatat sebesar 400.501 ton atau setara dengan 79,09 persen total produksi bawang merah di seluruh wilayah Jawa Tengah yakni 506.357 ton. Dengan produksi sebesar itu, Brebes berkontribusi sebesar 38,18 persen atas produksi bawang merah nasional yang mencapai angka 1.048.934 ton. Sentra produksi bawang nasional sampai saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Menurut data Kementerian Perdagangan tahun kontribusinya mencapai 80,73 persen (846.793 ton) terhadap total produksi bawang merah nasional (Pedoman News, 2012).
Sementara untuk di Pulau Sumatra, daerah yang menjadi produsen komoditas bawang merah adalah di sekitar Samosir, Danau Toba. Sekitar 80 persen dari 130 ribu jiwa di Kabupaten Samosir berprofesi sebagai petani. Di Samosir sendiri, produksi bawang merah sekitar 5 - 6 ton per hektar. Angka tersebut, dikatakannya, dihasilkan dari sekitar 200 hektare pertanaman bawang merah di yang tersebar di wilayah Kabupaten Samosir (Dewantoro, 2012).

Description: http://1.bp.blogspot.com/-Nwn4Tp8i_aM/UVjfATxJ28I/AAAAAAAAAAs/pU5kXQKyzC4/s320/bawang.pngB. Klasifikasi Tanaman
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisio: Spermatophyta
Divisio: Magnoliophyta
Subdivisio: Angiospermae
Kelas: Liliopsida
Subkelas: Liliidae
Ordo: Amaryllidales
Famili: Alliaceae
Genus: Allium
Spesies: Allium cepa grup Aggregatum
Selanjutnya, ciri-ciri morfologis bawang merah yaitu berumbi lapis, berakar serabut, berdaun silindris seperti pipa, memiliki batang sejati seperti cakram tipis yang disebut diskus. Pangkal daun bersatu membentuk batang semu. Batang semu yang berada di dalam tanah, kemudian berubah bentuk dan menjadi umbi lapis atau bulbus. Bagian-bagian dari umbi bawang merah terdiri dari sisik daun, kuncup, subang (diskus), dan akar adventif.
Kemudian, pada awal pertumbuhannya, tangkai bunga keluar dari dasar umbi (cakram). Tiap tangkai bunga  tumbuh dan memanjang. Bunga bawang merah merupakan bunga majemuk berbentuk tandan yang bertangkai antara 50-200 kuntum bunga. Bagian ujung dan pangkal tangkai bunga mengecil dan menggembung di bagian tengah seperti pipa. Tangkai tandan bunga ini bisa tumbuh mencapai 30-50 cm. Bunga bawang merah termasuk bunga sempurna yang memiliki benang sari dan kepala putik. Pada umumnya terdiri dari 5-6 benang sari, sebuah putik, dan daun bunga yang berwarna putih. Bakal buah terbentuk dari tiga daun buah yang disebut carpel, yang membentuk tiga buah ruang, dan dalam tiap ruang tersebut terdapat dua calon biji. Buah berbentuk bulat dengan ujung tumpul yang membungkus biji yang berbentuk agak pipih. Biji Bawang merah dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif. Penyerbukan bunga bawang merah melalui perantaraan lebah madu atau lalat hijau.
Berdasar warna umbi, maka bawang merah dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
a)         Kelompok yang umbinya merah tua, seperti kultivar Medan, Sri Sakate, Maja dan
Gurgur.
b)         Kelompok yang umbinya kuning muda pucat, seperti kultivar Sumenep.
c)         Kelompok yang umbinya kuning kemerahan, seperti kultivar Lampung, Bima.

C.    Sejarah dan Budidaya Bawang Merah di Indonesia
Berdasarkan sejarahnya, tanaman bawang merupakan tanaman tertua dari dari silsilah peradaban manusia. Menurut perkiraan para ahli, bawang merah tumbuh pertama kali di wilayah Asia Tengah, di sekitar Palestina (Sunarjono dan Soedomo, 1989 dalam Ameriana dan Sutiarso, 1995). Kemudian pada abad VIII, tanaman ini menyebar ke wilayah Eropa Barat, Eropa Timur, dan Spanyol. Selanjutnya, dari negara-negara ini, tanaman bawang merah menyebar luas ke Amerika, Asia Timur, dan Asia Tenggara (Wibowo, 1991 dalam Ameriana dan Sutiarso, 1995). Di Indonesia sendiri, sentra produksi bawang merah yang terkenal adalah Brebes, Cirebon, Tegal, Kuningan, Wates, Lombok Timur, dan Samosir.
Pada budidaya bawang merah, faktor iklim merupakan faktor yang paling berpengaruh. Apabila iklimnya sesuai, maka hampir semua tipe tanah dapat digunakan dalam budidaya bawang merah. Unsur-unsur yang termasuk dalam faktor iklim, yaitu seperti ketinggian tempat, suhu, kelembaban, cahaya, curah hujan, dan angin. Tanaman bawang merah dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi 800 dpl. Pertumbuhan optimal dijumpai di daerah dengan ketinggian antara 10-250 m dpl (Anon, 1985 dalam Sumarni dan Sumiati, 1995). Tanaman bawang merah dapat menghasilkan umbi yang baik pada suhu udara antara 20o-30o C, dengan suhu rata-rata 24oC (Grubben, 1990 dalam Sumarni dan Sumiati, 1995).
Sehubungan dengan lokasi sentra produksi bawang merah yang tersebar, terutama pulau Jawa, diketahui bahwa bawang merah bisa dibudidayakan hampir di seluruh Indonesia, kecuali DKI Jakarta, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Penyebaran yang cukup luas tersebut dikarenakan tanaman bawang merah dapat ditanam dan tumbuh antara 0-1000 meter di atas permukaan laut (dpl) dan hampir semua jenis tanah di Indonesia. Tanaman bawang merah membutuhkan lingkungan tumbuh yang mendukung. Dua faktor yang mempengaruhi adalah iklim dan tanah. Data hasil produksi dan luas panen bawang merah di Indonesia disajikan pada Tabel


Wilayah
Produksi (ribu ton)
LuasPanen (ribu ha)
2001
2002
2001
2002
Jawa
665,0
596,3
62,5
67,2
Bali & NusaTenggara
129,3
115,9
8,7
9,4
Sumatera
43,3
38,8
5,4
5,8
Kalimantan
0,1
0,1
0,0
0,0
Sulawesi
18,7
16,8
5,2
5,6
Maluku & Papua
4,8
4,3
0,4
0,4
Luar Jawa
196,2
175,9
19,7
21,2
Indonesia
861,2
772,1
82,2
88,4




Daerah yang menjadi produsen bawang merah terbesar di pulau Jawa adalah Kabupaten Brebes. Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes, sentra produksi bawang merah di wilayah Brebes Utara dan Brebes Tengah tersebar di 11 Kecamatan. Bawang merah menjadi produk unggulan di Kabupaten Brebes, dengan produksi rata-rata pertahun selama 5 tahun terakhir mencapai 1.750.588 kw dengan luas panen 19.405 Ha (Disperindag, 2012).
Selanjutnya, pada tahun 2010, produksi bawang merah Kabupaten Brebes tercatat sebesar 400.501 ton atau setara dengan 79,09 persen total produksi bawang merah di seluruh wilayah Jawa Tengah yakni 506.357 ton. Dengan produksi sebesar itu, Brebes berkontribusi sebesar 38,18 persen atas produksi bawang merah nasional yang mencapai angka 1.048.934 ton. Sentra produksi bawang nasional sampai saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Menurut data Kementerian Perdagangan tahun kontribusinya mencapai 80,73 persen (846.793 ton) terhadap total produksi bawang merah nasional (Pedoman News, 2012).
Sementara untuk di Pulau Sumatra, daerah yang menjadi produsen komoditas bawang merah adalah di sekitar Samosir, Danau Toba. Sekitar 80 persen dari 130 ribu jiwa di Kabupaten Samosir berprofesi sebagai petani. Di Samosir sendiri, produksi bawang merah sekitar 5 - 6 ton per hektar. Angka tersebut, dikatakannya, dihasilkan dari sekitar 200 hektare pertanaman bawang merah di yang tersebar di wilayah Kabupaten Samosir (Dewantoro, 2012).

D.       Kandungan dan Penggunaan Bawang Merah
Berdasarkan kandungannya, bawang merah mengandung minyak atsiri yang mudah menguap saat umbinya dikupas dan dipotong. Minyak atsiri tersebut berada dalam kandungan air bawang. Dari 100 gram umbi Allium cepa yang diteliti, sekitar 80 persen kandungannya adalah air. Kandungan lainnya yaitu karbohidrat atau zat pati sebesar 9,2% dan gula 10%, serta selebihnya adalah vitamin dan mineral. Vitamin yang terkandung dalam bawang merah antara lain, vitamin B1, B2, dan C. Sementara mineral yang ada dalam bawang merah seperti kalium, zat besi, dan fosfor.





Kandungan
Jumlah
Air
80-85%
Kalori
30 kal
Protein
1,5%
Lemak
0,3%
Karbohidrat
9,2%
β-karotene
50,00 IU
Tiamin (Vit. B1)
30,00 mg
Riboflavin (Vit. B2)
0,04 mg
Niasin
20,00 mg
Asam askorbat (Vit. C)
9,00 mg
Kalium
334,00 mg
Zat Besi
0,80 gram
Fosfor
40,00 mg
Fruktosa
10-40%
Gula mereduksi
10-15%
Sakharosa
5-8%

Selanjutnya, terkait penggunaannya, bawang merah digunakan di hampir seluruh makanan, khususnya di Asia Tenggara, baik itu makanan utama, makanan ringan atau jajanan. Bawang merah umumnya diolah menjadi bahan dasar bumbu masakan maupun bawang goreng untuk taburan di atas makanan.

Makanan
Kudapan
-          Acar
-          Ayam goreng
-          Dendeng
-          Gudeg
-          Gulai
-          Gado-gado
-          Ikan bakar
-          Ketupat sayur
-          Laksa
-          Lodeh
-          Nasi goreng
-          Opor 
-          Pepes
-          Perkedel Rawon
-          Rendang
-          Salad
-          Sambal goreng
-          Semur
-          Soto
-          Sup
-          Tauge goreng
-          Tongseng
-          Tumis sayur
-          Arem-arem
-          Asinan Jakarta
-          Bawang goreng
-          Buras
-          Kerupuk bawang
-          Kroket
-          Lumpia
-          Otak-otak
-          Panada
-          Pastel
-          Sosis solo
-          Tahu isi





Secara tradisional umbi lapis bawang merah digunakan untuk peluruh dahak (obat batuk), obat kencing manis, memacu enzim pencernaan, peluruh haid, peluruh air seni dan penurun panas (Lansida, 2009).  Di dalam masyarakat, penggunaan bawang merah untuk bahan masakan dan obat, umumnya dipilih bawang yang masih segar. Di saat kondisi panen melimpah, bawang merah bisa diberi perlakuan untuk memperpanjang daya simpannya. Bawang merah antara lain dibentuk acar, bawang goreng, tepung, pasta, dan minyak. Tentu saja nilai jualnya menjadi lebih tinggi dibanding harga jual segar. Berikut pada Gambar 8 disajikan pohon industri dari bawang merah.

Description: http://4.bp.blogspot.com/-540K6m1U4ME/UVje-TIkClI/AAAAAAAAAAg/peO-FFz_MME/s320/pohon+industri+bawang.png

Permasalahan yang muncul menghinggapi komoditas bawang merah adalah masuknya bawang merah impor ke Indonesia. Hal tersebut dikarenakan oleh besarnya pasar bawang merah di dalam negeri, sehingga bawang merah impor masuk secara ilegal. Kedatangan bawang merah ilegal tersebut bisa menimbulkan keresahan bagi petani bawang merah. Terutama bagi petani di daerah-daerah yang menjadi sentra yang 80 persen terletak di Pulau Jawa, antara lain Brebes, Nganjuk, Probolinggo, dan Cirebon. Padahal menurut data Kementerian Pertanian, luas panen bawang merah per akhir 2009 mencapai 102.050 ha dengan volume produksi 952.939 ton.

DAFTAR PUSTAKA

Ameriana, M. dan Sutiarso, T.A. 1995. Persebaran, Produksi dan Konsumsi Bawang Merah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Dewantoro. 2012. Petani Minta Impor Bawang Merah Tepat Sasaran. http://www. medanbisnisdaily.com/news/read/2012/02/16/81668/petani_minta_impor_bawang_merah_tepat_sasaran/#.UGJ3J43iYxI (Diakses pada Senin, 24 September 2012).
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes. 2012. Info Produk Andalan. http://disperindag.brebeskab.go.id/info.php. (Diakses pada Senin, 24 September 2012).
Dinas Pertanian Republik Indonesia. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang Merah. Jakarta.
Lansida. 2009. Bawang Merah (Allium cepa L.). http://lansida.blogspot.com/2009/09/ bawang-merah-allium-cepa-l.html (Diakses pada Senin, 24 September 2012).


Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.