Pages

Subscribe:

Sunday, 18 October 2015

HAMA PENTING TANAMAN UTAMA





HAMA JAGUNG
1.      Penggerek tongkol jagung (Heliothis armigera)
a)      Sikslus hidup
Telur diletakkan pada rambut jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan.
larva terdiri dari lima sampai tujuh instar. Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24 - 27,2°C adalah 12,8 - 21,3 hari. Larva memiliki sifat kanibalisme. Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah.
Pupa umumnya terbentuk pada kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35°C dan sampai 30 hari pada suhu 15°C.
b)      Gejala serangan
Imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk ke dalam tongkol jagung lalu memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas mupun kuantitas tongkol jagung. Pada lubang–lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran–kotoran yang berasal dari hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang bagian tangkai bunga.
c)      Pengendalian
Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Trichogramma spp. Yang merupakan parasitoid telur, di mana tingkat parasitasi pada hampir semua tanaman inang H. armigera sangat bervariasi dengan angka maksimum 49% (Mustea 1999). Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) juga merupakan parasitoid pada larva muda. Dalam kondisi kelembaban yang cukup, larva juga dapat diinfeksi oleh M.anisopliae. Agen pengendali lain yang juga berpotensi untuk mengendalikan serangga ini adalah bakteri B. bassiana dan virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV). Kultur Teknis Pengolahan tanah secara sempurna akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya.
2.      Ostrinia furnacalis
a)      Silus hidup
Telur Berbentuk oval, pipih dan diletakkan bergerombol seperti timbangan (15-65 telur/kelompok telur). Sebagian besar telur diletakkan di permukaan daun bagian bawah. Masa inkubasi telur sekitar 3-4 hari.
Larva (ulat) Larva berwarna putih-krem sampai merah jambu dengan bercak berbentuk setengah lingkaran. Kepala berwarna hitam/coklat. Larva hidup melalui 5 stadium selama 18-30 hari (rata-rata 24 hari).
Pupa (kepompong) Berwarna coklat muda hingga coklat tua, dengan panjang 12-18 mm. Masa pupa selama 5-10 hari. Dewasa (Ngengat) Ukuran ngengat jantan lebih kecil dari betinanya. Jantan memiliki sayap bergaris kuning kecoklatan, sedangkan betina bersayap kuning pucat. Betina memproduksi telur rata-rata 300 butir. Ngengat dewasa hidup selama 4-10 hari.
b)      Gejala serangan
Gejala kerusakan akibat serangan larva (ulat) O. furnacalis ini terlihat di setiap bagian tanaman jagung, diantaranya itu adanya lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan (tassel), pangkal tongkol sehingga menyebabkan batang dan tassel mudah patah serta kerusakan pada tumpukan tassel.
c)      Pengendalian
Kultur Teknis Lakukan penanaman di awal musim dan serentak di daerah yang terinfestasi penggerek batang; sistem tumpang sari dengan kedelai atau kacang tanah dan pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman).
Pengendalian mekanis/fisik Memusnahkan gerombolan telur dan larva dengan menggerusnya.
Pengendalian hayati Pelepasan musuh alami seperti parasit telur Trichogramma spp sebanyak ± 200.00/ha serta predator larva dan pupa Euborellia annulata pada saat 35-45 hari sesudah penanaman atau segera setelah ditemukan kelompok telur penggerek di permukaan daun.
Pengendalian kimiawi Penggunaan insektisida (berbahan aktif karbofuran) ke dalam kuncup bunga pada 30-35 hari setelah tanam; penyemprotan insektisida (berbahan aktif pyrethroid, monokrotofos, triazofos).

HAMA PADI
1.      Tryporiza incertulas dan Tryporyza innotata

a)      Morfologi
Di Indonesia terdapat empat jenis hama penggerek batang padi yaitu pengerek batang padi putih (Tryporyza innotata), penggerek batang padi kuning (Tryporyza incertulas).
b)      Siklus hidup
Imago/inang/ngengat (serangga dewasa) hama pengerek batang aktif pada malam hari dan terbang ke sawah untuk meletakkan telur. Pada siang hari mereka hanya berdiam diri dan bersembunyi di balik daun padi atau gulma-gulma disekitarnya. Penggerek batang padi dewasa mampu terbang sampai 2 km. Serangga dewasa sangat tertarik cahaya lampu pada malam hari. Ngengat betina mampu meletakkan telur sebanyak 200 – 300 butir dalam hidupnya selama 4 hari pada daun atau seludang daun.
 Larva yang baru menetas sering sering mengantungkan tubuhnya pada daun padi dengan benang sutera dan bila tertiup angin akan pindah ketanaman lainnya. Larva muda memakan daun atau seludang daun Larva-larva instar selanjutnya masuk seludang daun dan tangkai malai beberapa hari sebelum masuk ke dalam batang. Larva yang lebih tua masuk ke dalam batang dan makan pada bagian dalam batang di dekat pangkalnya. Larva instar terakhir di dalam batang dapat bergerak turun ke bawah permukaan tanah untuk berdiapaose kalau keadaan tidak menguntungkan. Pupa terbentuk di dalam batang tanaman padi beberapa sentimeter di bawah permukaan tanah. Imago keluar dari pupa dan merngkak ke luar dari lubang yang telah dibuat sebelumnya oleh larva sebelum menjadi pupa
c)      Gejala serangan
Ke dua spesies penggerek batang padi tersebut menyerang dengan cara yang sama dan menimbulkan gejala kerusakan yang sama pula. Serangan pada dalam setadium vegetative menimbulkan gejala sundep yaitu matinya pucuk tanaman akibat titik tumbuhnya digerek larva penggerek batang. Pucuk tersebut mula-mula berwarna kuning kemerah-merahan kemudian kering dan mati. Serangan dalam stadium generative menimbulkan gejala beluk yaitu malai hampa berwarna putih dan berdiri tegak karena tangkai malai putus digerek. Pucuk yang diserang dalam stadium vegetative dan generative mudah dicabut karena pangkal batangnya putus digerek.
d)     Pengendalian
Kultur Teknis Menanam varietas yang cepat dewasa, Tanam Serempak,Mengurangi penggunaan pupuk yang mengandung unsur Nitrogen (N) berlebihan. Membuang benih/bibit padi yang mengandung telur pengerek batang sebelum penanaman. Eradikasi selektif dengan mencabut tanaman terserang (sundep atau beluk).
 Penggunaan Varietas Tahan Terdapat varietas tahan yang menunjukkan ketahanan sedang terhadap serangan pengerek batang. Varietas yang beranakan banyak dapat mengkompensasi terjadinya sundep seperti varietas Silogonggo.
Fisik/Mekanis Pengumpulan dan inkubasi kelompok telur agar parasitoid yang muncul dapat dilepaskan kembali dengan bumbung bambu/bumbung parasitoid. Dapat juga dilakukan pemasangan lampu perangkap untuk penangkapan ngengat/serangga dewasa.
Pengendalian Hayati Terdapat beberapa musuh alami yang dapat menekan populasi pengerek batang seperti Trichogramma spp., Telenomus rowani, Telenomus dingus, Tetastichus schoenobii dan Apanteles.
Selain 2 pengerek tersebut mash ada beberapa jenis penggerek batang padi yaitu :
1. Penggerek batang padi kuning (Triporyza incertulas Walker (Pyralidae)).
2. Penggerek batang padi putih ( Triporyza inotata Walker (Pyralidae)).
3. Penggerek batang padi bergaris ( Chilo suppressalis Walker (Pyralidae)).
. Penggerek padi berkepala hitam (C. polychrysus Meyrick (Pyralidae)).
5. Penggerek padi berkilat ( C. auricilius Dudgeon (Pyralidae)).
6. Penggerek padi merah jambu (Sesamia inferens Walker (Noctuidae))


HAMA PADI SAWAH
1.      Wereng Batang Coklat (WBC) (Nilaparvata lugens Stal )

a)      siklus hidup
Telur  Diletakkan secara berkelompok pd jaringan parenkima pelepah Berwarna keputih-putihan, bulat panjang (pj:0,87mm& lb :0,16mm ), berkisar 100 – 500 butir tergantung lingkungan .
Nimfa baru menetas berwarna keputih-putihan, 2-3 hari berubah  putih kecoklatan dan coklat setelah menginjak instar3.Panjang tubuh baru menetas 0,6 mm, menjadi 2 mm  menjelang instar terakhir. Mengalami 5 stadia (instar) Perbedaan stadia bentuk dan ukuran mesonotum  dan metanotum
b)      gejala serangan
Tanaman terinfeksi  sangat kerdil danbanyak anakan,  rumput, daunnya sempit, pendek, kaku, hijau pucat dan Kadang-kadang mempunyai bercak seperti karat. Kadang-Kadang juga terdapat percabangan anakan dari buku Tanaman yang terinfeksi  menghasilkan sedikit malai yg Kecil berwarna coklat dan bulirnya hampa. Awal pertumbuhan daun menjadi kasar /bergerigi dan  Tidak teratur. Bagian yg kasar biasanya menguning, kecoklatan, rusak/terpilin. Pada tanaman dewasa > daun bendera pendek, terpilin, salah bentuk/kasar tak  beraturan. Bulir padi pd tanaman yg terserang sedikit yg berisi. 
c)      Penendalian
Preventif : Tanam padi serempak ,Pengamatan populasi WBC,Monitoring dg lampu perangkap
Kuratif : Menggunakan insektidida yg direkomendasikan buprofezin, BPMC, fipronil, amitraz, karbofuran, imidakloprid, dll. tepat jenis dan dosis  Perkembangan wereng batang coklat pada pertanaman padi 4 generasi
§  Generasi 0 (G0) > 0-10 HST > migrasi
§  Generasi 1 (G1)>20-30 HST (akan menjadi imago generasi 1)
§  Generasi 2 (G2)> 30-60 HST (akan menjadi imago generasi ke2)
§  Generasi 3 (G3)> diatas 60 HST
à Pengendalian yg baik dilakukan pada saat G0 dan G1, pengendalian saat G3 tidak akan berhasil.
Represif : merupakan kejadian luar biasa dan menyebabkan kerusakan secara masal Tindakan yg dapat dilakukan : Pengeringan petakan sawah , Pencabutan dan pembakaran seluruh tanaman ,Memilih varietas unggul baru yg lebih tahan, Melakukan pergiliran /rotasi tanaman > mengatur pola tanam (P-P-PL)
2.      Werengdaun hijau (Nephotettix spp.)
a)      Morfologi
Genus nephotettix dapat diidentifikasi 8 spesies dan 1 sub-spesies. Di Asia sebanyak 2 spesies yakni : N. virescens dan N. nigropictus didapatkan lebih dominant dari pada spesies-spesies lainnya baik dari segi besarnya populasi maupun luas sebarannya. Penyebaran werengdaun hijau N. virescens : India, Bangladesh, Srilangka, RRC, Burma, Hongkong, Vietnam, Laos, Malaysia, Indonesia, Philippina.
b)      Siklus hidup
Telur WDH > bulat panjang dan agak meruncing pd kedua ujungnya, telur yg baru diletakkan bening, kemudian menjadi putih kekuning .kuningan. Umur 2-3 hari 2 buah bintik merah mulai tampak pada salah satu ujungnya, telur diletakkan berkelompok dan tersusun berjajar pada bagian sisi jaringan pelepah daun. Telur lebih banyak diletakkan pada pelepah daun terluar.Stadia telur antara 4- 7 hari.

Nimfa WDH> instar 1, berwarna putih ke kuning-kuningan, setelah berganti kulit > kuning atau hijau kekuning-kuningan. Nimfa yg baru menetas segera menuju ke bagian atas tanaman padi dan berkumpul pada pangkal helai daun. Nimfa berganti kulit> 5 kali, stadium larva didapatkan rata-rata 16 hari.
WDH>yg baru lepas dari instar 5 >kekuning-kuningan, hijau kekuning-kuningan, dan menjadi hijau dalam waktu  kurang lebih 3 jam.Lama hidup serangga dewasa dipengaruhi oleh temperatur, antara 12-25 hari, seekor betina rata-rata bertelur 313 butir
a)      Gejala serangan tungro yang di sebabkan WDH
Daun berwarna kuning oranye ( berbintik-bintik karat berwarna  hitam dimulai dari ujung daun dan selanjutnya berkembang ke bagian bawah.
Akibat serangan tungro : > jumlah anakan berkurang, tanaman  kerdil serta malai yg terbentuk lebih pendek, banyak yg hampa,tinggi tanaman biasanya tidak merata. Tingkat berkurangnya jumlah anakan tergantung saat infeksi dan ketahanan varietas.
Gejala lain > terjadinya pemendekan jarak antara pangkal daun atau bahkan berhimpitan atau kadang-kadang satu bidang sehingga terlihat seperti kipas.
b)      Pengendalian
Pada prinsipnya penyakit tungro tidak dapat dikendalikan secara langsung artinya, tanaman yang telah terserang tidak dapat disembuhkan.Pengendalian bertujuan untuk mencegah dan meluasnya serangan serta menekan populasi wereng hijau yang menularkan penyakit. Mengingat banyaknya faktor yang berpengaruh pada terjadinya serangan dan intensitas serangan, serta untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, upaya pengedalian harus dilakukan secara terpadu yang meliputi : Waktu tanam tepat, Tanam serempak, Menanam varietas tahan, Memusnahkan (eradikasi) tanaman terserang.

HAMA KEDELAI DAN KACANG
1.      Etiella zinckenella
Morfologi dari ulat polong yaitu mempunyai panjang ngengat kurang lebih 12 mm. sayap mukanya pada bagian tepi berwarna putih seperti perak, atau kuning pucat. Kepala  ulat berwarna hitam. Warna ulat mula-mula hijau pucat, kemudian berubah menjadi merah muda. Bentuk ulat silindris dengan panjang kuang lebih 15 mm.
Gejala serangan dapat dilihat dengan  terdapatnya bercak hitam pada kuit polong, dan didalamnya terdapat ulat. Warna buah yang terserang berubah dari hijau menjadi gelap berkilau, sedangkan bijinya keropos.
Telur diletakkan pada polong atau daun. Jmlahnya 7-15 butir. Setelah menetas ulat segera membuat lubang pada polong. Ulat kemudian memakan biji dan mengeluarkan kotorannya. Ulat yang telah dewasa berwarna merah. Setelah dewasa ulat meninggalkan polong an berkepompong di tanah.
Pengendalian Tindakan yang perlu dilakukan dalam mengendalikan hama ulat polong ini yaitu :
a.   Tindakan pencegahan dilakukan penanaman serentak dan dalam aktu yang relative singkat selesai.
b.   Penggunaan insektisida pada saat setelah buah mulai terbentuk. dengan interval penyemprotan trgantung denga intensitas serangan

2.      Agromysa phaseoli
Gejala awal berupa bercak-bercak pada keping biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan tempat peletaka telur. Selanjutnya terlihat liang gerek pada keping biji atau daun pertama.  Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah berada di dalam batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar daun mulai layu dan kekuning-kuningan. Tanaman akan mati berumur 3-4 minggu. Jika tanaman tersebut dicabut akan didapati larva, pupa, atau kulit pupa di antara akar dan kulit akar. Tanaman yang terserang dan masih tetap hidup menampakkan akar-akar adventif di bagian terbawah dari batang.  Sejauh yang diketahui, serangannya tidak sehebat pada tanaman kedelai. Hal ini disebabkan karena keping biji kacang hijau yang masih muda mudah rontok ketika diserang sehingga tidak memberi kesempatan pada serangga tersebut untuk bertelur.
penyebab Lalat kacang (Agromyza phaseoli Caq.) sebagai penyebab. Tubuhnya kecil dan berwarna hitam mengilap. Perkawinannya (kopulasi) biasa terjadi antara pukul 09.00@10.00 pagi. Waktu matahari bersinar terik, lalat ini bersembunyi di dalam rumput di dekat tanaman kacang hijau. Lalat kacang bertelur pada pagi hari. Telurnya diletakkan pada keping biji atau pada daun pertama. Setelah telur menetas, belatungnya menggerek dan memakan keping biji atau daun sehingga terbentuk liang. Belatung ini akan terus menggerek ke tangkai daun dan masuk ke dalam batang sampai pangkal akar, Kepompong atau pupanya berwarna cokelat kuning. Pada setiap batang tanaman yang diserang rata-rata terdapat 4-5 pupa.
3.      Antherigona sp
Hama lalat bibit (Antherigona sp) merupakan salah satu hama yang merugikan pada  tanaman jagung. Hama lalat bibit menyerang tanaman jagung yang masih muda terutama yang ditanam pada musim hujan. Mengingat kerugian yang ditimbulkan cukup besar, diperlukan tindakan pengendalian secara terpadu untuk menekan tingkat serangan sampai batas yang tidak merugikan. Pengendalian hama terpadu merupakan komponen pengendalian yang tepat karena lebih mengutamakan pengendalian secara alami seperti pemanfaatan parasit, predator dan pathogen hama.Gejala tanaman yang terserang hama lalat bibit diikuti daun yang masih muda menggulung layu karena pangkalnya tergerek larva (Thiharso, 2000).
Larva yang sampai ke titik tumbuh menyebabkna tanaman tidak dapat tumbuh lagi. Penyebabnya adalah lalat bibit (Antherigona sp), dimana imago aktif pada siang hari pukul 16.00, periode imago 7 hari. Telur diletakkan pada permukaan bawah daun secara terpisah satu sama lain. Periode telur 1-3 hari, lama stadium larva antara 8-10 hari dan stadium pupa antara 5-11 hari dan stadium imago rata-rata 8 hari. Pupa berada dalam tanah dekat tanaman, namun kadang-kadang dalam tanaman.
Pengendalian hama terpadu merupakan pengembangan teknologi pengendalian lebih dilakukan pada pengendalian yang bersifat alami dan sekecil mungkin mengurangi penggunaan insektisida. Beberapa cara pengendalian lalat bibit adalah sebagai berikut:
Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan menggunakan parasitoid dan predator. Parasitoid untuk lalat bibit adalah Trichogramma sp dan parasitoid untuk larva adalah Opius sp dan Tetrastichus sp. Predator imago adalah clubiona japonicola.
Pergiliran tanaman Menanaman jagung secara berturut-turut harus dihindari, karena akan member peluang pada lalat bibit untuk tumbuh dan berkembang. Pergiliran tanaman  sebagai upaya untuk memutuskan daur hidup lalat bibit karena tidak ada persediaan makanan.
Penggunaan Insektisida harus dengan bijaksana, terbatas dan selektif baik jenis maupun cara aplikasinya. Insektisida yang digunakan korbufuran 10 g/kg benih melalui titik tumbuh dan untuk daerah endemic menggunakan Tiodicarb 75WP 15 g/kg benih atau karbosulfan 2,5 g/kg benih.
Menanam beberapa varietas yang tahan terhadap serangan lalat bibit seperti Nusa Penida dan Sweet Corn. Varietas yang agak tahan seperti Bromo, Abimanyu, dan Nakula.

4.      Aphis sp.

Bioekologi hama Aphis  :
1. Sifatnya partenogenesis, yaitu telurnya berkembang menjadi nimfa tanpa terjadi pembuahan, kemudian dilahirkan oleh induknya.
2. Lama hidupnya antara 13 – 18 hari dengan 4 – 8 kali instar.
3. Nimfa yang baru terbentuk langsung mengisap cairan tanaman secara bergerombol. Nimfa dewasa berwarna hitam dan berkilau. Antenenya lebih pendek dari pada abdomen.
4. Betina menjadi dewasa setelah berumur 4 – 20 hari. Panjang tubuh yang bersayap rata-rata 1,4 mm dan yang tidak bersayap rata-rata 1,5 mm. Mulai menghasilkan keturunan pada umur 5 – 6 hari dan berakhir sepanjang hidupnya.

Gejala serangan hama
Stadia yang merusak adalah nimfa dan imago yang umumnya mengisap pada bagian daun permukaan bawah, kuncup, batang muda. Tanaman yang terserang akan terhambat pertumbuhannya menjadi lemah dan kehilangan warna daun, mengkerut dan akhirnya menyebabkan penurunan hasil produksi. Serangan berat pada fase pembungaan atau pembentukan polong dapat menurunkan hasil panen. Selain itu, kutu daun kacang juga merupakan vektor penyakit virus (CAMV) (Soemadi, 2002).

5.      Pengorok daun (Liriomyza spp)
Lalat Liriomyza huidobrensis bertubuh kecil, mungil, dengan panjang antara 1-4 mm. Konon, lalat penggorok daun ini berasal dari daerah Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Selain menyerang daun, lalat ini juga menyerang batang muda dan buah, seperti pada kacang polong.
Siklus hidup Liriomyza huidobrensis pada tanaman kentang berlangsung selama 22-25 hari. Telur yang diletakkan pada bagian epidermis akan menetas setelah 2-4 hari. Stadium larva berlangsung selama 6-12 hari dan terdiri dari tiga instar. Larva instar kedua dan ketiga merupakan larva yang paling besar menimbulkan kerusakan. Pada fase berikutnya, larva akan berubah menjadi pupa, yang bersembunyi di dalam tanah atau di antara daun. Setelah delapan hari, stadium pupa selesai dan berubah menjadi lalat dewasa.
Serangan diawali dengan lalat betina meletakkan sejumlah telur melalui ovipositornya, kurang lebih 50-300 butir, pada bagian epidermis daun. Setelah menetas, larva akan menggerogoti jaringan mesofil daun, sehingga jaringan tersebut menjadi terbuka atau terluka. Luka pada jaringan mesofil ini berpotensi menimbulkan serangan penyakit sekunder, terutama disebabkan oleh infeksi fungi maupun bakteri, sehingga daun akan membusuk. Sementara lalat dewasa akan menghisap cairan tanaman hingga tanaman mengering dan tidak mampu lagi mengeluarkan tunas baru.
Lalat ini akan berkembang baik pada saat cuaca panas dan kelembaban rendah. Pada suhu 25-32°C dengan kelembaban udara rendah, lalat dewasa akan terangsang untuk kawin dan menghasilkan keturunan baru. Sehingga pada suhu yang demikian, berpotensi terjadi serangan berat lalat penggorok daun Liriomyza huidobrensis, dengan tingkat kerugian yang dialami oleh petani sangat tinggi.Pemupukan dengan nitrogen tinggi akan merangsang terjadinya serangan Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis). Memang, salah satu hal yang mempengaruhi tingkat serangan hama atau penyakit adalah faktor abiotik, salah satunya adalah pemupukan tidak berimbang. Oleh karena itu, penggunaan pupuk berimbang dan terukur selama proses budidaya lebih disarankan, sebagai salah satu upaya menanggulangi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan upaya pengendalian terhadap lalat Liriomyza huidobrensis adalah tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap aplikasi suatu jenis pestisida tertentu. Oleh karena itu, hindari penggunaan pestisida tunggal selama proses budidaya.



HAMA UBI JALAR DAN PISANG
1.      Cyclas fermcarius

Morfologi
Kumbang Cylas Cukup Indah  Bentuk Dan Warnanya, Berukuran 5 – 6,5 Mm. Kepala Dan Sayap Bagian Luar Berwarna Biru Sedangkan Leher Dan Kakinya Berwarna Merah.

Ekologi
Cylas Banyak Terdapat Di Daerah Yang Tananya Gembur. Pada Siang Hari, Cylas Tidak Dapat Merayap Kemana – Mana Dan Berkumpul Bersama Yang Lain Di Tempat Yang Teduh. Bila Diganggu, Dengan Seketika Cylas Akan Merebahkan Diri Seolah – Olah Mati.

Pengendalian
Cara Mekanis, Meninggalkan Umbi – Umbi Yang Terkena Serangan Cylas Pada Waktu Panen, Melakukan Rotasi Tanaman, Penimbunan Secukupnya Pada Bendengan Agar Umbi Tidak Muncuk Ke Permukaan.

2.      Erionota tharx

Gejala Serangan
Daun yang diserang ulat biasanya digulung, sehingga menyerupai tabung dan apabila dibuka akan ditemukan ulat di dalamnya. Ulat yang masih muda memotong tepi daun secara miring, lalu digulung hingga membentuk tabung kecil. Di dalam gulungan tersebut ulat akan memakan daun.
Apabila daun dalam gulungan tersebut sudah habis, maka ulat akan pindah ke tempat lain dan membuat gulungan yang lebih besar. Apabila terjadi serangan berat, daun bisa habis dan tinggal pelepah daun yang penuh dengan gulungan daun.
Morfologi/Bioekologi Kupu-kupu mengisap madu bunga pisang dan melakukan kopulasi sambil berterbangan pada waktu sore dan pagi hari serta bertelur pada malam hari.
Telur diletakkan berkelompok sebanyak ± 25 butir pada daun pisang yang masih utuh.
Ulat yang masih muda warnanya sedikit kehijauan, tubuhnya tidak dilapisi lilin. Sedangkan ulat yang lebih besar berwarna putih kekuningan dan tubuhnya dilapisi lilin.
Pupa berada di dalam gulungan daun, berwarna kehijauan dan dilapisi lilin. Panjang pupa lebih kurang 6 cm dan mempunyai belalai (probosis). Siklus hidup di Bogor berkisar antara 5 – 6 minggu. Tanaman Inang Lain Tanaman pisang hias, pisang serat.
Pengendalia Cara mekanis
Daun pisang yang tergulung diambil, kemudian ulat yang ada di dalamnya dimusnahkan
• Cara biologi
ü  Pemanfaatan predator seperti burung gagak dan kutilang
ü  Pemanfaatan parasitoid telur (tabuhan Oencyrtus erionotae Ferr), parasitoid larva muda (Cotesia (Apanteles) erionotae Wkl), dan parasitoid pupa (tabuhan Xanthopimpla gampsara Kr.). Parasitoid lainnya: Agiommatus spp., Anastatus sp.. Brachymeria sp., dan Pediobius erionatae.



HAMA KELAPA
1.      Oryctes rhinoceros
a)      morfologi
Ukuran 20-40 mm , Warna hitam, Panjang kumbang ± 5 cm-6 cm, mempunyai 2 pasang sayap dimana sayap depan keras, pada bagian ujung kepala kumbang terdapat tanduk, tipe mulut menggigit mengunyah
b)      Siklus hidup
Telur serangga ini berarna putih, bentuknya mula-mula oval, kemudian bulat dengan diameter kurang lebih 3 mm. Telur-telur ini diletakkan oleh serangga betina pada tempat yang baik dan aman (misalnya dalam pohon kelapa yang melapuk), setelah 2 minggu telur-telur ini menetas. Rata-rata fekunditas seekor serangga betina berkisar antara 49-61 butir telur, sedangkan di Australia berkisar 51 butir telur, bahkan dapat mencapai 70 butir (Bedford, 1980). Stadium telur berkisar antara 11-13 hari, rata-rata 12 hari (Khalshoven, 1981). Sedangkan menurut suhadirman (1996), telur-telur menetas setelah 12 hari.
Larva yang baru menetas berwarna putih dan setelah dewasa berwarna putih kekuningan, warna bagian ekornya agak gelap dengan panjang 7-10 cm. Larva deasa berukuran panjang 12 mm dengan kepala berwarna merah kecoklatan. Tubuh bagian belakang lebih besar dari bagian depan. Pada permukaan tubuh larva terdapat bulu-bulu pendek dan pada bagian ekor bulu-bulu tersebut tumbuh lebih rapat. Stadium larva 4-5 bulan ( Suhadirman, 1996), bahkan adapula yang mencapai 2-4 bulan lamanya (Nayar, 1976). Stadium larva terdiri dari 3 instar yaitu instar I selama 11-21 hari, instar II selama 12-21 hari dan instar III selama 60-165 hari (Berdford,1980).
Pupa Ukuran pupa lebih kecil dari larvanya, kerdil, bertanduk dan berwarna merah kecoklatan dengan panjang 5-8 cm yang terbungkus kokon dari tanah yang berwarna kuning. Stadia ini terdiri atas 2 fase:
Fase I : selama 1 bulan, merupakan perubahan bentuk dari larva ke pupa.
Fase II : Lamanya 3 minggu, merupakan perubahan bentuk dari pupa menjadi imago,    dan masih berdiam dalam kokon (Suhadirman, 1996).
Imago Kumbang ini berwarna gelap sampai hitam, sebesar biji durian, cembung pada bagian punggung dan bersisi lurus, pada bagian kepala terdapat satu tanduk dan tedapat cekungan dangkal pada permukaan punggung ruas dibelakang kepala (Anonim, 1980).Menurut Mo (1975), kumbang O.rhinoceros pada bagian atas berwarna hitam mengkilat, bagian bawah coklat merah tua. Panjangnya 3-5 cm. Tanduk kumbang jantan lebih panjang dari tanduk betina. Pada kumbang betina terdapat bulu yang tumbuh pada ujung abdomennya, sedangkan pada kumbang jantan bulu-bulu tersebut hampir tidak


c)      Gejala serangan
Daun muda yang belum membuka (biasa disebut pupus/janur) dan pada pangkal daun berlubang-lubang karena dimakan oleh kumbang ini.


d)     Pengendalian
1)      Pengendalian secara mekanis, yaitu dengan melakukan kutip manual kumbang yang menyerang/ditemukan di pokok (TBM/pokok rendah) menggunakan alat kait dari besi.
2)      Sanitasi (eradikasi breeding site) dan kutip serangga pra-dewasa. Pengendalian serangga ini tidak bisa terlepas dari pengelolaan tempat perkembang-biakannya (breeding site). Pengendalian yang mengabaikan pengelolaan (eradikasi) breeding site ibarat menguras perahu bocor tanpa menambalnya, kerusakan tanaman akan tetap terjadi. Breeding site pada dasarnya adalah tumpukan material organik yang akan membusuk, bisa berupa rumpukan kayu, pupuk kandang, sampah domestik (rumah tangga) dan terutama material dari bagian-bagian tanaman sawit, seperti pokok sawit mati (log-yang masih berdiri maupun yang sudah tumbang), sampah TBS, hasil ketrek buah, tumpukan janjang kosong, kentosan, limbah pabrik (fiber, cangkang), sisa cuci parit di lahan gambut dll. Maka, penumpukan janjang kosong tidak boleh lebih dari satu lapis dan pokok mati yang masih berdiri segera ditumbang dan dicincang (chipping) lalu diserak, tidak boleh ditumpuk kembali agar cepat lapuk dan cepat mengering. Apabila cara tersebut tidak memungkinkan dilakukan, maka tetap harus dilakukan pengendalian lainnya, seperti aplikasi Cendawan entomopathogen.
2.      Brontispa longissima
a)      Taksonomi dan morfologi

Sistematika kumbang pucuk daun (janur) menurut Kalshoven (1981)
adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Hexapoda
Ordo : Coleoptera
Famili : Chrysomelidae
Genus : Brontispa
Spesies : Brontispa longissima

b)      Siklus hidup

Kumbang janur B. longissima memiliki telur berbentuk pipih, lonjong,
panjang 1,4 mm dan lebar 0,5 mm. Telur diletakkan secara berkelompok 2-7 butir/kelompok pada lipatan janur. Stadium telur 4-7 hari. Larva baru
panjangnya 2 mm dan larva tua 8-10 mm. Stadium larva 23-43 hari. Pupa
berwarna putih-kekuningan kemudian menjadi merah kecoklatan, panjangnya
8-10 mm dan lebar 2 mm. Stadium pupa 4-5 hari. Imago panjangnya 7,5-10 mm
dan lebar 1,5-2 mm, bentuknya pipih panjang. Stadium imago 75-90 hari.
Stadia larva dan imago merupakan stadia aktif karena di dalam lipatan janur
melakukan kegiatan mengetam atau menggerigiti dan memakan kulit janur
secara memanjang. Setelah daun membuka, tampak jaringan becak-becak
memanjang dan daun menjadi keriput kemudian kering dan berwarna coklat
(Arifin, 2011).

c)      Gejala serangan

Kumbang B. longissima merusak atau menyerang pucuk kelapa terutama tanaman kelapa yang masih muda, serangan hama dapat mengakibatkan pucuk tanaman tidak dapat berkembang secara sempurna, daun menjadi kecil dan pendek, anak daun yang terserang kelihatan melengkung, keriting,berwarna kemerahan atau mengering dan terdapat garis-garis memanjang bekas gigitan. Serangan yang hebat dapat mengakibatkan kematian pohon kelapa terutama pohon yang masih muda (Warisno, 2003).

d)      Pengendalian
                                                                                                        
Keberadaaan OPT perlu diwaspadai sejak dini agar tidak terjadi serangan
yang cukup berat dan mengakibatkan kerusakan tanaman secara total atau tidak menghasilkan. Untuk mencegah tingginya tingkat serangan perlu dilakukan upaya pengendalian hama yaitu dengan memanfaatkan musuh musuh alaminya (pengendalian hayati) seperti predator, parasit dan pathogen (Sunarno, 2012). Pengendalian hayati sudah dikenal sebagai metode yang efektif dalam pengendalian hama-hama penting yang menyerang tanaman kelapa, seperti Ooencyrtus podontiae, Tetrastichus brontispae, Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana. Diantara agens-agens hayati yang sudah dimanfaatkan dalam pengendalian hayati, agens hayati dari jenis predator informasinya masih predator yang mampu mengendalikan keberadaan kumbang pucuk daun kelapa B. longissima adalah Cecopet Chelisoches morio








0 comments: